Trying to forget
Something that you
know
It hasn’t killed you,
yet
But you cannot let it
go
(The Cranberries)
Ketika pertama kali mendengar lirik lagu Wake Me When It’s
Over tersebut saya langsung berpikir, pengalaman hidup apa yang dialami Dolores O’
Riordan sang vokalis sekaligus si penulis lagu, hingga bisa membuatnya menulis
lirik lagu yang sedemikian pedih? Semakin pedih karena seluruh dunia mendengar lagu
ini setelah Dolores tiada, mati tenggelam di bak mandi sebuah kamar mandi hotel
di London.
Saya berpikir bila saya adalah Dolores, mungkin kalimat
itulah yang akan saya taruh dalam lirik lagu yang saya tulis. Kalimat tersebut sangat
menggambarkan kepedihan yang saya rasakan. Kepedihan akibat hal yang sangat
menyedihkan dan menyakitkan hingga ingin kita lupakan, tapi kita tidak bisa.
Tidak membuat kita mati, tapi tidak bisa kita lepaskan begitu saja. Apakah itu
yang juga dirasakan oleh Dolores saat ia membuat lagu itu, atau itu hanya
sebuah lagu yang ia karang begitu saja? Entahlah.
Empat bulan setelah kepergian Emma, saya memutuskan untuk
menemui psikolog. Keinginan untuk berkonsultasi dengan psikolog ini adalah
keputusan saya sendiri, tanpa dorongan atau paksaan siapapun, bahkan saya
menghubunginya langsung melalui DM instagram. Keputusan saya itu didasarkan pada
keputusan saya untuk bangun, awake. Saya
tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat seluruhnya sudah selesai.
Saya justru ingin dibangunkan sekarang, saat saya tengah menjalani proses ini. Saya
ingin menjalani seluruh proses ini dengan sadar, dan saya tau saya butuh
bantuan.
Jujur saya memulai pertemuan itu dengan pesimisme. Apakah
orang ini bisa membantu saya? Apakah sebenarnya saya perlu bertemu psikolog?
Orang ini nanti akan ngomong apa? Banyak pertanyaan berkelibat di kepala saya
sebelum pertemuan itu, sampai membuat jantung ini agak deg-deg-an. Saya nervous.
Apa saya sudah membuat keputusan yang salah?
Namun ternyata pertemuan itu mengalir begitu saja. Saya
terus bicara dan bercerita, bukan soal kepergian Emma itu sendiri, tapi lebih kepada diri saya sepeninggal dia.
Apa yang terjadi dengan diri saya setelah ia pergi? Apakah saya bisa makan,
tidur dan melakukan kegiatan lain? Yang terpenting, bagaimana diri saya
terhadap kehidupan dan orang lain di sekitar saya? Sang psikolog memfokuskan
pada saat ini, now. Saya yang
sekarang.
Saya agak terhenyak hari itu. Ada sisi dalam diri saya yang
merasa terbukakan. Bahwa kita boleh bicara soal masa lalu, tapi itu hanyalah
sebuah cerita, sebuah kisah. Semua pemikiran kita bisa terus meratap kesana,
bila kita mau. Tapi yang terpenting adalah sekarang. Hidup seperti apa yang mau
kita jalani saat ini? Ibaratnya kemarin ada bom meledak yang menghancurkan
rumah saya dan seluruh isinya. Apakah sekarang saya mau terus menangisi rumah
itu, atau memilih untuk membangunnya kembali?
Kepadanya saya bercerita bahwa sejak kepergian Emma ada dua
hal yang sangat sulit saya kontrol. Pertama, rasa marah. Rasa marah ini bisa
saya tumpahkan kepada siapa saja, dan emosi yang keluar kadang kelewatan. Kedua,
rasa sedih. Sama seperti rasa marah, emosi ini seperti luapan depresi saya,
yang banjir dan bisa meluap kapan saja. Keduanya sangat menyerap energi saya. Saya
jadi merasa sangat depresi karena tidak tau bagaimana cara mengendalikannya.
Oleh dia saya disuruh menghadapinya.
Untuk kemarahan, saya diminta mengenali perubahan apa yang
terjadi pada diri saya secara fisik pada saat saya ingin marah. Suatu hari saat
saya ingin marah saya merasakan ada sensasi panas yang merambat di sepanjang punggung
saya. Hal itu sungguh membuat saya kaget dan malah membuat saya tidak jadi
marah, karena saya sibuk berhenti sejenak, pause,
untuk meneliti apa yang saya rasakan. Hal ini terus saya latih lakukan setiap
saya ingin marah atau emosi. Pause
saat saya mulai merasakan sensasi ingin marah.
Langkah pause ini
bukan berarti membuat saya selalu tidak jadi marah. Pada kondisi tertentu
memang ia menghentikan keinginan saya untuk marah. Itu setelah saya berpikir,
oh untuk hal ini saya tidak perlu marah. Tapi dalam kondisi lain, saya tetap
lanjut untuk marah. Tapi marah itu sudah saya pikirkan. Sehingga akhirnya emosi
marah yang keluar adalah emosi yang sudah saya kendalikan, emosi yang
terkontrol. Marah dengan kesadaran.
Menghadapi kesedihan adalah hal yang lebih sulit buat saya. Setiap
hari saya diminta menyediakan waktu khusus untuk sedih. Dalam waktu me time ini saya boleh mengingat Emma
dengan sedih, mengingat momen-momen yang membuat saya nyesek, boleh nangis
sepuasnya menumpahkan seluruh perasaan saya. Hal itu tujuannya untuk membuat
saya terbiasa dengan kesedihan itu sendiri, dan harapannya perasaan itu akan
menjadi biasa.
Saya katakan sulit karena yang namanya sedih itu kadang
datangnya random dan sangat sulit dikontrol. Walaupun hari itu saya sudah
melakukan me time kesedihan, bisa
saja kalau setelah itu saya jalan-jalan kemudian lihat bayi lewat saya merasa
sedih, terkadang biasa saja. Perasaan itu seperti datang otomatis dan tidak
bisa saya perkirakan. Jujur, saya masih sering gagal mengendalikan ini. Namun
seperti mengendalikan kemarahan, di sini saya juga coba belajar pause. Pause saat ingin sedih. Terus mencoba meski saya sering gagal
melakukannya.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan saya untuk bangun,
untuk awake. Perjalanan saya masih
panjang. Tapi saya tau saya tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat
seluruhnya sudah selesai. Saya ingin bangun sekarang.
Ah, seandainya Dolores menulis Wake Me Now dan bukan Wake Me
When It’s Over, mungkin kita masih melihatnya bernyanyi di atas panggung hari
ini…
*Foto di atas saya ambil pada sesi konsultasi kedua di
tanggal 16 Juni 2019. Saya diminta memilih tiga gambar dari tumpukan kartu,
yang merepresentasikan kondisi hidup saya di masa lalu, masa kini dan masa
depan. Kata Just Be dan Now juga saya pilih dari tumpukan kartu, sebagai kata
yang menggambarkan kondisi hidup saya saat ini.
*Wake Me When It’s Over adalah salah satu lagu yang ditulis
oleh Dolores O’ Riordan sebelum kepergiannya, yang masuk dalam album pamungkas
The Cranberries yang berjudul In The End. Album terakhir The Cranberries yang berisi
11 lagu dan baru rilis April 2019 lalu itu dibuat berdasarkan rekaman suara
Dolores sebelum ia meninggal, saat tengah mempersiapkan album ke delapan band
tersebut. Rekaman suara tersebut kemudian
dilengkapi suara instrumen musik oleh para rekan band nya.
Dolores ditemukan meninggal di Hotel Hilton di Park Lane,
London pada 15 Januari 2018. Penyebab kematiannya adalah kecelakaan di kamar
mandi yang membuat ia tenggelam di bak mandi dan tidak bisa menolong dirinya
sendiri karena sedang dalam pengaruh alkohol.
