Home

Tuesday, June 18, 2019

Bangun


Trying to forget
Something that you know
It hasn’t killed you, yet
But you cannot let it go
(The Cranberries)

Ketika pertama kali mendengar lirik lagu Wake Me When It’s Over tersebut  saya langsung berpikir, pengalaman hidup apa yang dialami Dolores O’ Riordan sang vokalis sekaligus si penulis lagu, hingga bisa membuatnya menulis lirik lagu yang sedemikian pedih? Semakin pedih karena seluruh dunia mendengar lagu ini setelah Dolores tiada, mati tenggelam di bak mandi sebuah kamar mandi hotel di London.

Saya berpikir bila saya adalah Dolores, mungkin kalimat itulah yang akan saya taruh dalam lirik lagu yang saya tulis. Kalimat tersebut sangat menggambarkan kepedihan yang saya rasakan. Kepedihan akibat hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hingga ingin kita lupakan, tapi kita tidak bisa. Tidak membuat kita mati, tapi tidak bisa kita lepaskan begitu saja. Apakah itu yang juga dirasakan oleh Dolores saat ia membuat lagu itu, atau itu hanya sebuah lagu yang ia karang begitu saja? Entahlah.

Empat bulan setelah kepergian Emma, saya memutuskan untuk menemui psikolog. Keinginan untuk berkonsultasi dengan psikolog ini adalah keputusan saya sendiri, tanpa dorongan atau paksaan siapapun, bahkan saya menghubunginya langsung melalui DM instagram. Keputusan saya itu didasarkan pada keputusan saya untuk bangun, awake. Saya tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat seluruhnya sudah selesai. Saya justru ingin dibangunkan sekarang, saat saya tengah menjalani proses ini. Saya ingin menjalani seluruh proses ini dengan sadar, dan saya tau saya butuh bantuan.

Jujur saya memulai pertemuan itu dengan pesimisme. Apakah orang ini bisa membantu saya? Apakah sebenarnya saya perlu bertemu psikolog? Orang ini nanti akan ngomong apa? Banyak pertanyaan berkelibat di kepala saya sebelum pertemuan itu, sampai membuat jantung ini agak deg-deg-an. Saya nervous. Apa saya sudah membuat keputusan yang salah?

Namun ternyata pertemuan itu mengalir begitu saja. Saya terus bicara dan bercerita, bukan soal kepergian Emma itu sendiri,  tapi lebih kepada diri saya sepeninggal dia. Apa yang terjadi dengan diri saya setelah ia pergi? Apakah saya bisa makan, tidur dan melakukan kegiatan lain? Yang terpenting, bagaimana diri saya terhadap kehidupan dan orang lain di sekitar saya? Sang psikolog memfokuskan pada saat ini, now. Saya yang sekarang.

Saya agak terhenyak hari itu. Ada sisi dalam diri saya yang merasa terbukakan. Bahwa kita boleh bicara soal masa lalu, tapi itu hanyalah sebuah cerita, sebuah kisah. Semua pemikiran kita bisa terus meratap kesana, bila kita mau. Tapi yang terpenting adalah sekarang. Hidup seperti apa yang mau kita jalani saat ini? Ibaratnya kemarin ada bom meledak yang menghancurkan rumah saya dan seluruh isinya. Apakah sekarang saya mau terus menangisi rumah itu, atau memilih untuk membangunnya kembali?

Kepadanya saya bercerita bahwa sejak kepergian Emma ada dua hal yang sangat sulit saya kontrol. Pertama, rasa marah. Rasa marah ini bisa saya tumpahkan kepada siapa saja, dan emosi yang keluar kadang kelewatan. Kedua, rasa sedih. Sama seperti rasa marah, emosi ini seperti luapan depresi saya, yang banjir dan bisa meluap kapan saja. Keduanya sangat menyerap energi saya. Saya jadi merasa sangat depresi karena tidak tau bagaimana cara mengendalikannya.

Oleh dia saya disuruh menghadapinya.

Untuk kemarahan, saya diminta mengenali perubahan apa yang terjadi pada diri saya secara fisik pada saat saya ingin marah. Suatu hari saat saya ingin marah saya merasakan ada sensasi panas yang merambat di sepanjang punggung saya. Hal itu sungguh membuat saya kaget dan malah membuat saya tidak jadi marah, karena saya sibuk berhenti sejenak, pause, untuk meneliti apa yang saya rasakan. Hal ini terus saya latih lakukan setiap saya ingin marah atau emosi. Pause saat saya mulai merasakan sensasi ingin marah.

Langkah pause ini bukan berarti membuat saya selalu tidak jadi marah. Pada kondisi tertentu memang ia menghentikan keinginan saya untuk marah. Itu setelah saya berpikir, oh untuk hal ini saya tidak perlu marah. Tapi dalam kondisi lain, saya tetap lanjut untuk marah. Tapi marah itu sudah saya pikirkan. Sehingga akhirnya emosi marah yang keluar adalah emosi yang sudah saya kendalikan, emosi yang terkontrol. Marah dengan kesadaran.

Menghadapi kesedihan adalah hal yang lebih sulit buat saya. Setiap hari saya diminta menyediakan waktu khusus untuk sedih. Dalam waktu me time ini saya boleh mengingat Emma dengan sedih, mengingat momen-momen yang membuat saya nyesek, boleh nangis sepuasnya menumpahkan seluruh perasaan saya. Hal itu tujuannya untuk membuat saya terbiasa dengan kesedihan itu sendiri, dan harapannya perasaan itu akan menjadi biasa.

Saya katakan sulit karena yang namanya sedih itu kadang datangnya random dan sangat sulit dikontrol. Walaupun hari itu saya sudah melakukan me time kesedihan, bisa saja kalau setelah itu saya jalan-jalan kemudian lihat bayi lewat saya merasa sedih, terkadang biasa saja. Perasaan itu seperti datang otomatis dan tidak bisa saya perkirakan. Jujur, saya masih sering gagal mengendalikan ini. Namun seperti mengendalikan kemarahan, di sini saya juga coba belajar pause. Pause saat ingin sedih. Terus mencoba meski saya sering gagal melakukannya.

Semua itu adalah bagian dari perjalanan saya untuk bangun, untuk awake. Perjalanan saya masih panjang. Tapi saya tau saya tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat seluruhnya sudah selesai. Saya ingin bangun sekarang.

Ah, seandainya Dolores menulis Wake Me Now dan bukan Wake Me When It’s Over, mungkin kita masih melihatnya bernyanyi di atas panggung hari ini…

Teruntuk, @wiwitto.



*Foto di atas saya ambil pada sesi konsultasi kedua di tanggal 16 Juni 2019. Saya diminta memilih tiga gambar dari tumpukan kartu, yang merepresentasikan kondisi hidup saya di masa lalu, masa kini dan masa depan. Kata Just Be dan Now juga saya pilih dari tumpukan kartu, sebagai kata yang menggambarkan kondisi hidup saya saat ini.

*Wake Me When It’s Over adalah salah satu lagu yang ditulis oleh Dolores O’ Riordan sebelum kepergiannya, yang masuk dalam album pamungkas The Cranberries yang berjudul In The End. Album terakhir The Cranberries yang berisi 11 lagu dan baru rilis April 2019 lalu itu dibuat berdasarkan rekaman suara Dolores sebelum ia meninggal, saat tengah mempersiapkan album ke delapan band tersebut. Rekaman suara tersebut  kemudian dilengkapi suara instrumen musik oleh para rekan band nya.

Dolores ditemukan meninggal di Hotel Hilton di Park Lane, London pada 15 Januari 2018. Penyebab kematiannya adalah kecelakaan di kamar mandi yang membuat ia tenggelam di bak mandi dan tidak bisa menolong dirinya sendiri karena sedang dalam pengaruh alkohol.