Siapakah yang akan pernah mengira betapa kebahagiaan begitu rapuh
dan keajaiban cinta hanyalah untuk sementara?
(Seno Gumira Ajidarma)*
Enam hari sebelum kepergian Emma, saya mengeposkan foto ini
di instagram saya:
Di bawah foto saya menuliskan: There are no perfect moms,
just real ones. Di bawahnya saya sematkan tagar #36weeks#4weekstogo.
Dua hari setelah kepergiannya, foto ini yang saya poskan di
instagram saya:
Di bawah foto saya menuliskan: Sarah dan Emma. Penjagaku di
dunia dan di surga. Tagar yang saya pakai adalah #daughters#stillbirth.
Dalam foto pertama saya tengah dalam kondisi paling bahagia.
Saya merasa sehat dan ceria karena tengah menunggu minggu-minggu terakhir
kelahiran Emma. Ini adalah hari-hari dimana saya sibuk mempersiapkan kehadirannya
dengan sibuk berbelanja kebutuhan bayi hingga menyiapkan tempat tidurnya.
Sementara dalam foto kedua, saya tengah berada dalam kondisi
terhancur dalam hidup saya. Namun nyatanya foto itu begitu terang, cerah dan
penuh kebahagiaan. Sarah pun sedang tertawa dalam foto itu.
Melihat kedua foto yang kontradiktif itu saya merasakan
tipisnya batas antara kesedihan dan kebahagiaan. Siapa yang pernah mengira
bahwa 8 hari setelah saya memposkan foto dalam kondisi hamil besar dengan tagar
#4weekstogo, saya kemudian akan memposkan foto makam bayi saya?
Hal ini membuat saya percaya dengan kalimat di awal tulisan
ini, bahwa kebahagiaan adalah hal yang rapuh. Betapa kebahagiaan bisa hancur
begitu saja dan digantikan oleh kesedihan. Betapa dalam setiap momen
kebahagiaan ada kesedihan yang mengintai.
Saat pertama kali saya tau bahwa saya mengandung Emma, di
usia kehamilan 7 minggu, saya sesungguhnya sudah diintai oleh kesedihan dan
ketakutan. Karena tidak tau bahwa saya sudah hamil, di minggu-minggu itu saya
tidak makan dan minum dengan benar, kecapekan dan banyak begadang, bahkan saya
sempat naik roller coaster di Dunia Fantasi.
Saya sedih membayangkan bahwa bisa jadi anak ini tidak baik
pembentukan tubuhnya. Saya sedih karena saya tidak mempersiapkan kehadirannya
dengan baik. Saya sedih dan takut akan terjadi apa-apa dengannya. Namun
nyatanya dia bertahan, anak ini sangat kuat.
Perkembangan tubuhnya, detak jantungnya, sangat baik dan
sehat setiap bulannya. Kondisi badan dan kesehatan saya pun tidak ada masalah.
Setiap bulan saya merasakan kebahagiaan yang bertambah dan terus membuncah.
Saya pongah! Saya lupa akan kesedihan yang mengintai.
Hingga hari itu datang dan mengingatkan segalanya.
26 Januari 2019. Hari dimana kami harus memakamkannya.
Dimanakah rasa keadilan ketika orang tua harus menguburkan
anaknya? Dimanakah rasa kepantasan ketika seorang kakak harus menangisi jasad
adiknya? Mengapa dunia bisa begitu kejam?
Itulah puncak kesedihan hidup yang saya dan juga keluarga
rasakan. Betapa kesedihan telah sabar mengintai dan menunggu dengan sabar
selama 9 bulan dan berhasil menuai hasilnya di hari itu. Sebuah kesedihan dan
kehancuran total yang ia jatuhkan kepada seorang, dua orang, tiga orang, sekian
orang manusia. Sebuah kesedihan berlapis yang tiada ujungnya.
Hari itu hampir seluruh keluarga kami hadir. Saya yang tidak
dapat hadir karena masih dirawat di rumah sakit, secara khusus meminta keluarga
untuk datang dengan baju putih, sebuah warna yang menurut saya ‘sangat Emma’.
Saya ingat saat saya berbelanja baju untuk Emma beberapa
minggu sebelumnya, semua berwarna putih. Bahkan sprei dan selimutnya yang sudah
saya jahitkan untuknya, juga bernuansa putih. Sama putihnya dengan warna peti
yang menaungi jasadnya. Sekali lagi, saya tidak tau mengapa saya memilih warna
putih. Saya hanya merasa suka saja.
Mereka yang datang semua bercerita bahwa seluruh proses
pemakaman Emma berlangsung sangat lancar dan baik, bahkan terkesan seperti sudah
diatur dan dilancarkan. Emma yang baru keluar dari rumah sakit sekitar pukul 2
dini hari, langsung dapat disemayamkan di rumah kami dengan bantuan saudara,
kerabat, tetangga dan teman-teman gereja papa dan mama saya.
Paginya sekitar pukul 8 dilangsungkan ibadat sabda yang
dihadiri oleh banyak sekali orang yang mungkin sebagian diantaranya tidak
mengenal saya sekeluarga. Semua datang atas dasar cinta dan murni ingin
mendoakannya. Sahabat dan saudara saya yang hadir mengatakan betapa cantiknya
Emma, dan betapa mereka yang melihat wajahnya dapat merasakan kesedihan,
ketenangan sekaligus kebahagiaan yang dalam.
Sekitar pukul 11 siang Emma akhirnya dimakamkan di pemakaman
Kali Mulya I, Depok. Ia mendapatkan tempat peristirahatan terakhir di area
khusus pemakaman bayi-bayi, yang lokasinya sungguh strategis dan dekat dengan
pintu masuk. Satu tempat terakhir yang seperti memang sudah disiapkan untuknya.
Sebuah tempat dan lokasi yang seperti surga di dunia, kata Hendra.
Bagaimana dengan saya hari itu?
Saya tidak dapat tidur sama sekali sejak semalam. Pagi itu
sejak Hendra meninggalkan saya untuk menghadiri ibadat sabda dan pemakaman, hal
pertama yang saya lakukan adalah melamun, memandangi tembok dan plafon kosong
yang ada di kamar rumah sakit. Pikiran dan hati saya blank, hanya air mata ini
yang tidak dapat berhenti mengalir. Saya hanya ingin mati saat itu.
Beberapa menit saya sendirian hingga kemudian satu per satu
sahabat saya datang. Ada yang datang untuk diam dan ikut menangis. Ada yang
terus berbicara dan menguatkan. Ada yang terus membelai saya, menyiapkan tissue
untuk mengelap air mata saya, hingga mendengarkan serpihan kata yang keluar
dari mulut saya. Saya bahkan tidak tau bagaimana mereka bisa tau mengenai kabar
perginya Emma semalam. Namun mereka semua hadir dengan porsinya masing-masing.
Seharian itu saya praktis sama sekali tidak pernah sendirian.
Kamar rumah sakit itu penuh oleh para sahabat saya yang menemani sampai malam,
hingga keluarga serta saudara-saudara yang terus berkunjung untuk mengucapkan
duka cita. Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak saya temui sejak lama
sekali. Namun mereka hadir lama hari itu.
Banyak dari mereka menyuruh saya untuk tidur dan
beristirahat. Tapi saya tidak bisa. Padahal suster sudah menyuntikkan obat
tidur banyak sekali ke infus saya. Nyatanya badan saya ngotot untuk bangun,
untuk menikmati semua kesakitan dan kesedihan hari itu. Sekaligus untuk
menikmati kebahagiaan dikelilingi oleh orang yang saya sayang dan menyayangi
saya.
Hari itu saya merasakan ironi. Sebuah ironi bahwa kesedihan
dan kebahagiaan dapat berpelukan dalam satu waktu. Sesungguhnya, hal itulah
yang terjadi hari itu.
Teruntuk mereka yang
menemani saya di hari itu dan setelahnya, terimakasih.
*Kalimat ini diambil dari cerita pendek Budak Cinta dalam kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Transit. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.
*Kalimat ini diambil dari cerita pendek Budak Cinta dalam kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Transit. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.