Home

Wednesday, October 30, 2019

Neraka


“Guilt is such a useless emotion”
-Lucifer Morningstar-

Belakangan saya lagi suka mengikuti serial Lucifer di Netflix. Serial ini bercerita tentang Lucifer, yes si setan Lucifer yang sedang merasa boring tinggal di neraka dan memutuskan untuk hijrah ke bumi atau tepatnya di Los Angeles yang terkenal sebagai City of Angel atau kotanya para malaikat.

Alkisah, Lucifer yang pembangkang melakukan pemberontakan terhadap ayahnya yakni Tuhan, yang membuat ia kemudian dibuang ke neraka dan menjadi King of Hell atau Raja di Neraka. Untuk menunjukkan bahwa ia tidak mau diatur-atur oleh ayahnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari neraka dan menjalani kehidupan di bumi.

Absurd? Ya namanya juga film.

Terlepas dari kisahnya yang absurd dan seringkali receh, buat saya film ini cukup menginspirasi. Terutama dari sisi Lucifer mendefinisikan neraka yang ia pimpin. Dalam beberapa episode ia menggambarkan bahwa yang namanya siksaan neraka itu isinya bukan kita terbakar karena digoreng api neraka atau dicambuk sampai bagian tubuh lepas. Neraka yang sebenarnya adalah dimana kita tersiksa oleh perasaan bersalah (guilt) kita sendiri.

Rasa bersalah itu saking menyiksanya, terus kembali dan kembali. Hal yang memicu rasa bersalah itu seperti te-rewind otomatis dan membuat adegan yang sama itu berulang-ulang. Dan disitulah kita merasa diri kita berada dalam titik terendah, titik dimana kita ingin pergi dan keluar dari situ tapi tidak bisa, titik dimana kita seperti merasa berada di neraka.

Saya tau persis rasanya neraka itu.

Sudah 10 bulan, dan sampai hari ini saya masih terus me-rewind hari di tanggal 25 Januari 2019, dimana Emma berpulang. Saya selalu merasa bersalah karena tidak lebih peka, tidak istirahat, tidak lebih cepat ke dokter, dan lain-lain. Kenapa saya bisa tidak tau, tidak merasa? Memang, bisa jadi tidak ada keadaan yang akan berubah juga bila saya merasa lebih cepat. Tapi bisa saja berubah, kan? Itu rasa bersalah saya. Itu neraka saya.

Perasaan bersalah itu meski kerap saya usir, seperti tidak mau pergi. Ia seperti menarik saya terus menerus. Bahkan seorang Lucifer dalam salah satu episode, sempat terseret ke dalam siksa neraka perasaan bersalahnya sendiri dan nyaris tidak bisa keluar dari lingkaran itu bila tidak diselamatkan. Even the devil can’t save himself.

Guilt is such a useless emotion, kata Lucifer.  Meski demikian perasaan itu bisa berdampak sangat besar, sampai membangun siksa neraka dalam kehidupan seseorang.

Kadang saya berpikir, ini adalah neraka yang saya ciptakan sendiri, I create my own hell. Akankah suatu hari saya bisa menghancurkan ciptaan saya sendiri? Atau saya akan memilih untuk tinggal di dalamnya dan malah membangun taman? Karena kecenderungan kita untuk terus tinggal dalam zona yang kita terbiasa, zona nyaman. Meskipun zona itu adalah neraka.

The Scientist


Come up to meet you

Tell you I’m sorry

You don’t know how lovely you are

I had to find you

Tell you I need you

Tell you I set you apart

Tell me your secrets

And ask me your questions

Oh let’s go back to the start

Running in circles, coming up tails

Heads on a science apart

Nobody said it was easy

It’s such a shame for us to part

Nobody said it was easy

No one ever said it would be this hard

Oh take me back to the start

I was just guessing at numbers and figures

Pulling your puzzles apart

Questions of science, science and progress

Do not speak as loud as my heart

Tell me you love me

Come back and haunt me

Oh and I rush to the start

Running in circles, chasing our tails

Coming back as we are.


Diciptakan oleh Coldplay. Dipopulerkan oleh Coldplay dan Willie Nelson

Tuesday, August 20, 2019

Pergeseran


Dua bulan sudah saya tidak menulis blog ini. Tidak ada apa-apa. Saya hanya sedang sibuk. Dan waktu nampaknya tidak sudi menunggu. Ia memilih untuk berjalan cepat sekali sampai saya kewalahan.

Sibuk apa ya?

Yang paling menyita waktu adalah saat kami sekeluarga akhirnya pindah kembali ke rumah yang sudah selesai direnovasi. Tanggal 6 Juli tepatnya, semua barang kami sudah dipindah, dan sisa waktu seterusnya diisi dengan mengeluarkan semua barang dari kardus dan beberes.

Proses pindahan ini tidak mudah bagi saya. Sekitar dua hari sebelum pindahan, saya merasa down dan depresi sekali. Seharian itu saya merasa marah, sedih sekali, sampai pingin mati. Entah apa yang terjadi pada diri saya hari itu. Saya seperti nervous karena akhirnya akan menempati rumah ini kembali.

Kenangan akan rumah ini saat saya menunggui proses pembangunannya sambil mengandung Emma terus berkelebat. Dalam hati saya merasa tidak akan sanggup tinggal di rumah ini. Setiap ruangan memiliki kenangan bersama Emma. Terlalu banyak memori disini. Saya pasti tidak sanggup menghadapinya.

Namun nyatanya saya masih bertahan hingga hari ini.

Memang, setiap hari sejak tanggal 6 Juli, selalu ada waktu dimana ada air mata yang menetes di pipi ini. Selalu ada rasa sakit di hati ini, yang kadang sampai ke kepala. Tapi saya masih bertahan. Memori di rumah itu saat saya bersama Emma di kandungan masih selalu ada, tapi sedikit-sedikit setiap hari ada memori baru yang masuk.

Memori saat saya menemani Sarah tidur di kamarnya yang nyaman. Memori saat saya mandi di kamar mandi yang bersih. Memori saat melihat dapur saya yang cantik. Hingga memori saat saya makan di meja makan atau sekedar ngobrol dengan suami saya di teras. Semua itu menjadi memori baru rumah ini buat saya. 

Memori baru itu memang tidak serta merta menggantikan memori sedih yang saya punya. Tapi saya merasakan sebuah pergeseran. Bahwa perasaan saya seperti dipaksa untuk tidak berpegang ke belakang. Karena sekarang ada yang baru, besok juga.

Tubuh dan pikiran saya seperti tidak kuasa menolak apapun yang masuk saat ini. Waktu dan hidup seperti terus menggeret saya ke depan. Saya seperti tidak mengendalikan apa-apa. Hidup saya ini ibarat berjalan auto pilot, ikut arus, pasrah berjalan entah kemana. Rasanya aneh, tapi nyata.

Mungkin ini bagian perjalanan yang harus saya lalui. Untuk tersadarkan dan belajar untuk tidak menginginkan atau mengontrol apa-apa. Entahlah. Saat ini mari jalani saja.


Tuesday, June 18, 2019

Bangun


Trying to forget
Something that you know
It hasn’t killed you, yet
But you cannot let it go
(The Cranberries)

Ketika pertama kali mendengar lirik lagu Wake Me When It’s Over tersebut  saya langsung berpikir, pengalaman hidup apa yang dialami Dolores O’ Riordan sang vokalis sekaligus si penulis lagu, hingga bisa membuatnya menulis lirik lagu yang sedemikian pedih? Semakin pedih karena seluruh dunia mendengar lagu ini setelah Dolores tiada, mati tenggelam di bak mandi sebuah kamar mandi hotel di London.

Saya berpikir bila saya adalah Dolores, mungkin kalimat itulah yang akan saya taruh dalam lirik lagu yang saya tulis. Kalimat tersebut sangat menggambarkan kepedihan yang saya rasakan. Kepedihan akibat hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hingga ingin kita lupakan, tapi kita tidak bisa. Tidak membuat kita mati, tapi tidak bisa kita lepaskan begitu saja. Apakah itu yang juga dirasakan oleh Dolores saat ia membuat lagu itu, atau itu hanya sebuah lagu yang ia karang begitu saja? Entahlah.

Empat bulan setelah kepergian Emma, saya memutuskan untuk menemui psikolog. Keinginan untuk berkonsultasi dengan psikolog ini adalah keputusan saya sendiri, tanpa dorongan atau paksaan siapapun, bahkan saya menghubunginya langsung melalui DM instagram. Keputusan saya itu didasarkan pada keputusan saya untuk bangun, awake. Saya tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat seluruhnya sudah selesai. Saya justru ingin dibangunkan sekarang, saat saya tengah menjalani proses ini. Saya ingin menjalani seluruh proses ini dengan sadar, dan saya tau saya butuh bantuan.

Jujur saya memulai pertemuan itu dengan pesimisme. Apakah orang ini bisa membantu saya? Apakah sebenarnya saya perlu bertemu psikolog? Orang ini nanti akan ngomong apa? Banyak pertanyaan berkelibat di kepala saya sebelum pertemuan itu, sampai membuat jantung ini agak deg-deg-an. Saya nervous. Apa saya sudah membuat keputusan yang salah?

Namun ternyata pertemuan itu mengalir begitu saja. Saya terus bicara dan bercerita, bukan soal kepergian Emma itu sendiri,  tapi lebih kepada diri saya sepeninggal dia. Apa yang terjadi dengan diri saya setelah ia pergi? Apakah saya bisa makan, tidur dan melakukan kegiatan lain? Yang terpenting, bagaimana diri saya terhadap kehidupan dan orang lain di sekitar saya? Sang psikolog memfokuskan pada saat ini, now. Saya yang sekarang.

Saya agak terhenyak hari itu. Ada sisi dalam diri saya yang merasa terbukakan. Bahwa kita boleh bicara soal masa lalu, tapi itu hanyalah sebuah cerita, sebuah kisah. Semua pemikiran kita bisa terus meratap kesana, bila kita mau. Tapi yang terpenting adalah sekarang. Hidup seperti apa yang mau kita jalani saat ini? Ibaratnya kemarin ada bom meledak yang menghancurkan rumah saya dan seluruh isinya. Apakah sekarang saya mau terus menangisi rumah itu, atau memilih untuk membangunnya kembali?

Kepadanya saya bercerita bahwa sejak kepergian Emma ada dua hal yang sangat sulit saya kontrol. Pertama, rasa marah. Rasa marah ini bisa saya tumpahkan kepada siapa saja, dan emosi yang keluar kadang kelewatan. Kedua, rasa sedih. Sama seperti rasa marah, emosi ini seperti luapan depresi saya, yang banjir dan bisa meluap kapan saja. Keduanya sangat menyerap energi saya. Saya jadi merasa sangat depresi karena tidak tau bagaimana cara mengendalikannya.

Oleh dia saya disuruh menghadapinya.

Untuk kemarahan, saya diminta mengenali perubahan apa yang terjadi pada diri saya secara fisik pada saat saya ingin marah. Suatu hari saat saya ingin marah saya merasakan ada sensasi panas yang merambat di sepanjang punggung saya. Hal itu sungguh membuat saya kaget dan malah membuat saya tidak jadi marah, karena saya sibuk berhenti sejenak, pause, untuk meneliti apa yang saya rasakan. Hal ini terus saya latih lakukan setiap saya ingin marah atau emosi. Pause saat saya mulai merasakan sensasi ingin marah.

Langkah pause ini bukan berarti membuat saya selalu tidak jadi marah. Pada kondisi tertentu memang ia menghentikan keinginan saya untuk marah. Itu setelah saya berpikir, oh untuk hal ini saya tidak perlu marah. Tapi dalam kondisi lain, saya tetap lanjut untuk marah. Tapi marah itu sudah saya pikirkan. Sehingga akhirnya emosi marah yang keluar adalah emosi yang sudah saya kendalikan, emosi yang terkontrol. Marah dengan kesadaran.

Menghadapi kesedihan adalah hal yang lebih sulit buat saya. Setiap hari saya diminta menyediakan waktu khusus untuk sedih. Dalam waktu me time ini saya boleh mengingat Emma dengan sedih, mengingat momen-momen yang membuat saya nyesek, boleh nangis sepuasnya menumpahkan seluruh perasaan saya. Hal itu tujuannya untuk membuat saya terbiasa dengan kesedihan itu sendiri, dan harapannya perasaan itu akan menjadi biasa.

Saya katakan sulit karena yang namanya sedih itu kadang datangnya random dan sangat sulit dikontrol. Walaupun hari itu saya sudah melakukan me time kesedihan, bisa saja kalau setelah itu saya jalan-jalan kemudian lihat bayi lewat saya merasa sedih, terkadang biasa saja. Perasaan itu seperti datang otomatis dan tidak bisa saya perkirakan. Jujur, saya masih sering gagal mengendalikan ini. Namun seperti mengendalikan kemarahan, di sini saya juga coba belajar pause. Pause saat ingin sedih. Terus mencoba meski saya sering gagal melakukannya.

Semua itu adalah bagian dari perjalanan saya untuk bangun, untuk awake. Perjalanan saya masih panjang. Tapi saya tau saya tidak mau seperti Dolores yang minta dibangunkan saat seluruhnya sudah selesai. Saya ingin bangun sekarang.

Ah, seandainya Dolores menulis Wake Me Now dan bukan Wake Me When It’s Over, mungkin kita masih melihatnya bernyanyi di atas panggung hari ini…

Teruntuk, @wiwitto.



*Foto di atas saya ambil pada sesi konsultasi kedua di tanggal 16 Juni 2019. Saya diminta memilih tiga gambar dari tumpukan kartu, yang merepresentasikan kondisi hidup saya di masa lalu, masa kini dan masa depan. Kata Just Be dan Now juga saya pilih dari tumpukan kartu, sebagai kata yang menggambarkan kondisi hidup saya saat ini.

*Wake Me When It’s Over adalah salah satu lagu yang ditulis oleh Dolores O’ Riordan sebelum kepergiannya, yang masuk dalam album pamungkas The Cranberries yang berjudul In The End. Album terakhir The Cranberries yang berisi 11 lagu dan baru rilis April 2019 lalu itu dibuat berdasarkan rekaman suara Dolores sebelum ia meninggal, saat tengah mempersiapkan album ke delapan band tersebut. Rekaman suara tersebut  kemudian dilengkapi suara instrumen musik oleh para rekan band nya.

Dolores ditemukan meninggal di Hotel Hilton di Park Lane, London pada 15 Januari 2018. Penyebab kematiannya adalah kecelakaan di kamar mandi yang membuat ia tenggelam di bak mandi dan tidak bisa menolong dirinya sendiri karena sedang dalam pengaruh alkohol.

Monday, May 27, 2019

Bunyi




Saya punya kebiasaan baru setiap saya sedang merasa down. Saya akan menarik nafas panjang, memasukkan rambut saya ke belakang daun telinga saya, kemudian perlahan menempelkan telinga saya ke dada anak saya Sarah. Sekedar untuk mendengar bunyi detak jantungnya.

Dulu saya sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut, bahkan tidak pernah terlintas di pikiran saya. Mungkin buat saya, jantung yang berdetak adalah hal yang biasa, tidak terpikirkan dan tidak perlu menjadi perhatian saya.

Kepergian Emma mengajarkan, apa yang saya anggap biasa itu bisa tercuri dari saya kapan saja.

Biasanya saya akan menempelkan telinga saya di dada Sarah saat dia tidur. Saya dengarkan bunyi detak jantungnya sambil memejamkan mata. Saya hapalkan bunyinya yang berulang hingga menggema di kepala saya, dug dug dug dug dug, kuat dan konstan.

Bunyi itu yang saya dambakan untuk bisa saya dengar di hari Emma pergi. Bunyi yang saya harapkan ada, walaupun sedikit. Dan sekarang saya mendengarnya melalui anak saya yang lain. Anak yang dari dulu jantungnya sudah berdetak, tanpa saya harus berpikir untuk mendambakan atau mengharapkannya terlebih dahulu.

Setelah 8 tahun, saya baru tau bagaimana bunyi detak jantung Sarah.

Bunyi itu yang menyelamatkan saya.

Bunyi itu yang mengajarkan saya untuk berpegang pada masa kini, menghargai setiap momen dan yang ada saat ini.

Bunyi itu juga menjadi pengingat bagi saya untuk selalu siap, bahwa bunyi itu bukan milik saya, bukan sesuatu yang bisa saya kontrol dan bisa tercuri kapan saja. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendengarkannya.

Friday, May 17, 2019

Sang Pengatur






“Bagi mereka yang mengalami kehilangan, pagi hari dimulai dengan rasa sakit.”
(Rain Chudori)

Belakangan cara pikir otak saya sering berkeliaran kemana-mana, kadang bahkan terlalu mengada-ngada. Seringnya pikiran yang datang itu langsung menyetrum hati saya, menyalurkan energi negatif dan sungguh menghabiskan tenaga.

Melihat ibu dengan anak kecil atau bayi dalam stroller, ibu hamil atau keluarga dengan dua anak, rasanya pikiran dan hati langsung sumpek. Pikiran langsung mengayal, ah itu seharusnya gue. Bahkan waktu pertama kali naik MRT Jakarta saya langsung mikir, sedih rasanya tidak bisa memperkenalkan ini ke Emma, saya tidak akan pernah melihat dia naik MRT selamanya.

Kalau dipikir-pikir itu rasanya aneh banget. Bagaimana saya bisa merasa sedih atas sebuah kejadian yang belum dan bahkan tidak mungkin terjadi? Memang kalau Emma hidup, apa benar saya akan membiarkan dia naik MRT ke sekolah sendirian di masa depannya? Kekuatan pikiran manusia itu sungguh aneh.

Teman baik saya yang juga seorang praktisi wellness, Ani Purwandini, bilang bahwa otak saya sebenarnya sedang terbajak oleh perasaan saya atas Emma. Perasaan ini seperti muter-muter di otak lapisan kedua yang bernama limbik. “Perasaan terbajak, enggak berdaya, enggak bisa melawan, itu ada di situ,” paparnya.

Otak limbik atau sang pengatur, yang terbentuk bersamaan dengan amygdale, otak pertama yang terbentuk ketika kita mulai menjadi janin, merekam semua perasaan kita. Ia berfungsi membantu mempertahankan keseimbangan hormonal, rasa haus dan lapar, dorongan seksual, pusat kesenangan dan metabolisme. Otak ini selalu melibatkan emosi yang dalam untuk melakukan sesuatu.

Kecenderungan manusia untuk mengendapkan perasaan, terutama perasaan yang tidak enak, lama-lama bisa membuat limbik menjadi penuh, sesak dan membentuk perlindungannya sendiri. Dalam kasus saya, peristiwa Emma ini menjadi semacam trigger atas segala hal yang sudah terjadi dalam hidup saya yang suka saya endapkan, saya acuhkan.

Program otak saya untuk mengendapkan hal yang tidak enak dalam hidup, langsung rubuh bersamaan dengan seluruh sistim pertahanan diri saya, saat kepergian Emma. Karena kali ini saya tidak bisa lari dan harus menghadapinya. Peristiwa ini seketika dan tidak dapat diganti, tidak bisa diendapkan, apalagi diacuhkan.

Hal itu membuat otak saya terbajak dengan pola pikir yang saya tanamkan sendiri. Saya terus sedih dan meratap sampai pingin mati. Kali lain saya suka berpikir what if, bagaimana jika? Jika Emma hidup saya pasti sekarang sedang menyusuinya. Jika Emma hidup saya pasti sedang mengajaknya jalan-jalan. Jika Emma hidup pasti Sarah akan lebih bahagia. Jika, jika, jika.

Itu semua ada di pikiran saya, di otak saya. Saya terus menciptakan cerita di pikiran saya, dengan pola pikir saya. Dan kadang itu tidak bisa saya hindari. Pikiran saya seperti melegitimasi itu.

Henry Manampiring dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras menulis, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup sebenarnya hampir selalu netral, tetapi kemudian menjadi positif atau negatif karena interpretasi dan makna yang kita berikan. Kondisi yang tidak menyenangkan atau musibah adalah fakta hidup, tetapi bukan itu yang membunuh kita, melainkan apa yang kita pikirkan tentangnya.

Ini sungguh sangat relevan dengan yang saya rasakan. Betapa saat Emma meninggal, pikiran saya langsung negatif. Saya langsung merasa saya adalah ibu dan manusia yang sedemikian buruk, sehingga semesta berubah pikiran untuk menjadikannya anak saya. Saya bahkan langsung berpikir mungkin saat Emma diambil ia langsung dipindahkan ke rahim ibu lain yang jauh lebih baik dari saya. Belum lagi semua perasaan bersalah yang terus menghujam, bahkan hingga saat ini.

Saya tau bahwa semua perasaan itu datang dari pikiran saya. Fakta sebenarnya adalah hanya anak saya meninggal. Itu saja. Tapi kemudian pikiran saya kemana-mana dan berusaha melegitimasi pikiran yang mengawang-ngawang itu.

Masih dalam buku Filosofi Teras, saya terkesan dengan pembahasan Henry Manampiring mengenai Menghadapi Kehilangan Anak yang ada di halaman 243-245. Ia mengutip Seneca, seorang filsuf dan politisi yang mengirim surat kepada ibunya Helvia, saat Seneca harus menjalani hukuman pembuangan di Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius:

“Karena dukacita yang dicoba ditutupi atau dialihkan perhatiannya akan terus kembali, dengan kekuatan yang lebih besar. Namun dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang selamanya.”

Itu berarti berani menghadapi dukacita itu dan tidak lari darinya. Dukacita dirasakan dan dihadapi, namun tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Ia harus ditaklukkan dengan nalar dan rasional. Caranya tentu dengan merubah dan mengendalikan pikiran, interpretasi dan persepsi kita.

Apakah saya akan bisa melakukan itu? Saya sendiri belum tau. Namun untuk sementara ini, sudah tau apa yang harus dilakukan saja sudah bagus.

*Terimakasih dan sayang sebesar-besarnya kepada Ani Purwandini yang perbincangan dengannya melalui whatsapp sangat membantu tulisan ini, dan juga hidup ini.

*Tulisan Henry Manampiring diambil dari buku Filosofi Teras. Filsafat Yunani – Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Penerbit Buku Kompas, 2019.

*Tulisan Rain Chudori diambil dari cerita pendek Dari Berlin, Dengan Cinta yang ada di kumpulan cerita pendek Biru. Penerbit KPG, 2018. 

Kenangan


Tidak setiap orang bisa menjejalkan kenangan ke besok.

Di mana gerangan tempat terbaik baginya?

Ia milik kemarin, milik igauan yang tak kenal arah angin.

Tidak setiap orang siap menuntun kenangan ke lusa.

Di mana gerangan aku bisa merawatnya?

Relakan saja: Dewabrata pun tak menginginkan istana.


Puisi karangan Sapardi Djoko Damono yang diambil dari kumpulan puisi Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012.


Monday, April 29, 2019

Pulang


Pekan lalu saat saya mengunjungi makam Emma, ada sebuah makam baru di sebelahnya. Makam seorang bayi berumur 7 bulan bernama Letisha, yang baru dimakamkan 5 hari sebelum kedatangan kami.

Entah mengapa air mata saya langsung menetes dan hati ini terasa sakit seperti dipelintir saat melihat makam Letisha. Saya merasa ikut sedih padahal saya tidak mengenalnya. Saya merasa ikut mengalami kesakitan orang tua Letisha.

Saya jadi teringat lagi pengalaman saya saat pertama kali mengunjungi makam Emma, tepatnya tanggal 16 Februari 2019 atau hampir tiga minggu sejak kepergiannya. Saya ingat hati saya kalut sepanjang perjalanan, dan mata ini terus mengeluarkan air mata. Dalam hati saya terus berpikir nanti akan bereaksi seperti apa.

Kami datang bertiga waktu itu. Saya, Hendra dan Sarah. Hendra membeli bunga tabur dan air mawar yang dijual oleh ibu penjaga disitu karena kami tidak sempat membeli bunga di toko bunga. Hujan turun rintik-rintik saat kami tiba.

Saya berusaha kuat saat turun dari mobil menuju ke makam Emma yang letaknya sangat dekat dari lokasi parkiran. Dalam hati saya bilang, jangan nangis, jangan nangis. Tapi begitu tiba persis di depan makamnya, ternyata saya tidak kuat. Saya menangis seru sampai sesungukan.

Tiba-tiba hujan turun menjadi lebat dan deras sekali, disertai angin kencang yang membuat kami basah kuyub.

Akhirnya kami memutuskan lari kembali ke dalam mobil untuk berteduh sampai hujan reda. Ada sekitar 15 menit kami menunggu hingga hujan mereda, dan dalam waktu tersebut, saya ingat saya berjanji untuk tenang dan tidak menangis. Saya ingat setelah saya benar-benar bisa berhenti menangis, kemudian hujan mereda, rintik-rintik, berhenti, lalu langit berangsur cerah dan putih kembali. Apakah itu sebuah kebetulan? Entahlah.

Hari itu agenda saya hanya memandangi makam Emma. Saya tidak bisa melakukan seperti yang biasa dilakukan orang kalau mengunjungi makam seperti mengajak ngobrol atau mendoakan. Saya hanya mematung, memandangi makam Emma dengan tidak percaya. Semua masih terasa seperti mimpi.

Namun, ketika kami pulang, entah mengapa saya merasakan sebuah kelegaan. Teman-teman saya menyebutnya sebagai sebuah closure, sebuah penutupan. Tapi bagaimana itu bisa disebut sebagai sebuah closure bila itu malah menjadi awal sebuah ritual?

Sejak hari itu kami rutin mengunjungi makam Emma setiap dua minggu sekali, selalu di hari Minggu. Seringnya kami datang berlima bersama orang tua saya. Bila ada kami akan membawakan mawar putih, atau bunga lain, namun pastinya berwarna putih. Setiap orang menancapkan satu bunga.

Di setiap kunjungan saya masih terus menangis, masih suka lama menatap makamnya. Tapi di setiap kunjungan itu selalu ada progressnya. Awalnya saya bisa menegurnya, kemudian saya mulai bisa bercerita kepadanya, lama-lama saya mulai mendoakannya dengan cara saya sendiri. Terakhir bahkan saya bisa menepuk-nepuk bagian bawah makamnya seperti sedang menidurkannya di boks bayi.

Tanpa saya sadari, mengunjungi makam Emma saat ini menjadi hal yang saya tuju setiap bulan. Lewat seminggu setelah saya berkunjung, saya akan tidak sabar menunggu minggu depan untuk kembali mengunjungi makamnya. Setiap hari Minggu pagi pasti saya sudah gelisah dan tidak sabar untuk berangkat ke makam. Mengunjungi Emma sekarang seperti menjadi sebuah kebutuhan.

Rasanya saya ibaratkan seperti pulang ke rumah.


Love


Take my hand

Take my whole life, too

For I can’t help falling in love with you


*Lirik lagu Can’t Help Falling in Love, dipopulerkan oleh Elvis Presley


Tuesday, April 16, 2019

Pertaruhan


“I wonder why progress looks so much like destruction. –John Steinbeck”

82 hari | 1.968 jam | 118.080 menit | 7.084.800 detik

Apa kabar kehidupan?

Setiap hari yang saya lalui setelah kepergian Emma ibarat ujian. Apakah saya akan bertahan hidup hari ini? Perkara dan kesintingan apa lagi yang akan saya dapatkan hari ini? Setiap hari ibarat pertaruhan: hidup, menjadi gila, atau mati.

Kendati tersuruk-suruk, nyatanya saya masih hidup hingga saya menuliskan ini. Sampai saat ini, setiap hari selalu ada momen dimana saya menitikkan air mata, meratap hingga badan kejang sampai berteriak histeris bak orang kesetanan saat emosi. Tapi saya sadar betul bahwa saya belum menjadi gila atau mati. Belum.

Sesungguhnya saya juga tidak memilih untuk hidup. Saya hanya memilih untuk menjalani aktivitas hidup setiap hari: bangun, makan, mandi, berkegiatan, tidur, kemudian bangun kembali. Setiap saya bangun pagi hari saya selalu langsung merenung menatap keluar jendela sambil berpikir, oh saya masih bangun hari ini. Masih.

Bukannya saya tidak tau bahwa masih banyak alasan saya untuk bangun. Masih ada anak pertama saya Sarah, suami saya Hendra, orang tua, keluarga dan sahabat yang mengelilingi saya. Saya masih memiliki rumah untuk tempat tinggal juga sumber penghidupan dari bisnis yang saya jalani. Banyak.

Tapi di sisi lain, saya merasa tengah menjalani siksaan hidup yang sangat berat. Mengapa saya masih hidup? Mengapa saya harus dibiarkan hidup dan tersiksa mengingat semuanya? Bayangkanlah rasanya ketika semua tempat, semua kejadian, semua lagu, semua bau, bisa mengingatkan pada sebuah kenangan yang menyakitkan. Sebuah kenangan yang saya harap tidak pernah ada.

Menuju tiga bulan kepergian Emma, sudah banyak hal terjadi pada saya. Berkali-kali saya sakit dan demam tinggi hingga menggigil kedinginan, yang setelah diperiksa ternyata karena radang tenggorokan. Kali lain terjadi karena air susu saya keluar dan mengakibatkan payudara bengkak.

Kemudian saya tidak lagi selera makan. Berat badan saya langsung drop 12 kilogram. Nasi dan karbohidrat lain ibarat musuh. Ketika saya sudah bisa beraktivitas kembali, badan saya yang kurang makan saya paksa berjalan kaki 4 kilometer dari rumah orang tua saya ke rumah saya yang sedang direnovasi, hampir setiap hari. Akhirnya saya ambruk lagi. 

Bekas luka sayatan operasi caesar saya ada yang terbuka dan terus mengeluarkan darah. Proses pengobatan ini sangat menyiksa saya secara lahir batin karena luka itu mengganggu dan saya harus bolak-balik ke rumah sakit tempat saya melahirkan. Hampir 2 bulan hingga luka bekas operasi itu akhirnya sembuh dan menutup.

Pada masa-masa ini saya juga merasakan sakit hati yang berat. Saya merasa dikecewakan, dikerjain, dikhianati, diberi harapan palsu, ditelantarkan begitu saja. Saya juga terus menyalahkan diri saya atas apa yang terjadi, bahwa badan sayalah yang telah membunuh anak saya. Bahwa saya merasa dianggap tidak pantas menjadi ibu.

Awalnya sungguh tak mudah untuk memulai bangun. Semua betul-betul dimulai dari langkah kecil. Pasca operasi dan proses pemulihan fisik yang menyakitkan, pelan-pelan saya mencoba melakukan aktivitas harian sendiri. Berjalan ke kamar kecil sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, naik turun tangga sendiri.

Perlahan ketika kondisi fisik terasa sudah pulih, saya mulai mencoba keluar rumah. Tempat pertama yang saya datangi adalah Pondok Indah Mal (PIM), tempat yang saya pikir tidak akan saya bisa datangi lagi karena PIM adalah tempat terakhir yang saya datangi di hari kepergian Emma. Saya menangis ketika berada disana, melewati tempat-tempat yang saya datangi hari itu.

Saya lalu beberapa kali kembali ke PIM. Bukan, saya bukan pecandu kesakitan. Saya hanya merasa, kemanapun saya pergi, semua tempat akan mengingatkan saya kepada Emma, kepada rasa dan kenangan saat saya bersamanya. Jadi ke PIM atau tidak ke PIM rasanya akan sama saja.    

Demi mengubah apa yang saya rasakan, saya bahkan mencoba mengubah kebiasaan-kebiasaan harian saya. Dari mulai mengubah apa yang saya konsumsi, mengganti rangkaian pembersih muka hingga mengubah lagu-lagu yang saya dengarkan. Namun semua tetap terasa sama saja. Semua hal tetap mengingatkan saya padanya. Semua hal tetap terasa menyakitkan.

Rasa sakit itu bahkan tega hadir di momen yang membahagiakan. Seperti saat saya tertawa lepas bersama keluarga dan sahabat-sahabat saya, waktu saya melihat banyaknya pesanan yang masuk pada bisnis saya, lega melihat proses renovasi rumah yang sudah akan selesai hingga saat Sarah berulang tahun ke 8. Pada setiap momen itu, tetap ada sekian detik dimana kesakitan itu masuk.

Betapa hebatnya sebuah rasa yang menyakitkan. Semakin ingin kita hiraukan dan lupakan, ia malah semakin menetap.

Saya tidak tau berapa lama hal ini akan berlangsung. Mungkin sebentar lagi, mungkin masih lama, atau mungkin saja selamanya. Namun yang pasti, hingga hari ini, setiap bangun tidur dan akan memulai hari, saya masih menghadapi sebuah pertaruhan. Mau menjadi apa hari ini?



Eternal Sunshine of The Spotless Mind

Friday, March 29, 2019

Kesedihan dan Kebahagiaan


Siapakah yang akan pernah mengira betapa kebahagiaan begitu rapuh
dan keajaiban cinta hanyalah untuk sementara?
(Seno Gumira Ajidarma)*


Enam hari sebelum kepergian Emma, saya mengeposkan foto ini di instagram saya:




Di bawah foto saya menuliskan: There are no perfect moms, just real ones. Di bawahnya saya sematkan tagar #36weeks#4weekstogo.

Dua hari setelah kepergiannya, foto ini yang saya poskan di instagram saya:




Di bawah foto saya menuliskan: Sarah dan Emma. Penjagaku di dunia dan di surga. Tagar yang saya pakai adalah #daughters#stillbirth.

Dalam foto pertama saya tengah dalam kondisi paling bahagia. Saya merasa sehat dan ceria karena tengah menunggu minggu-minggu terakhir kelahiran Emma. Ini adalah hari-hari dimana saya sibuk mempersiapkan kehadirannya dengan sibuk berbelanja kebutuhan bayi hingga menyiapkan tempat tidurnya.

Namun kontras dengan kondisi yang ada pada waktu itu, saya malah memilih mengedit warna foto itu dengan nuansa kelam hitam putih yang identik dengan kesedihan atau kesenduan. Bila diingat lagi saya sungguh tidak tau apa yang mendasarinya. Saya hanya merasa suka saja.

Sementara dalam foto kedua, saya tengah berada dalam kondisi terhancur dalam hidup saya. Namun nyatanya foto itu begitu terang, cerah dan penuh kebahagiaan. Sarah pun sedang tertawa dalam foto itu.

Melihat kedua foto yang kontradiktif itu saya merasakan tipisnya batas antara kesedihan dan kebahagiaan. Siapa yang pernah mengira bahwa 8 hari setelah saya memposkan foto dalam kondisi hamil besar dengan tagar #4weekstogo, saya kemudian akan memposkan foto makam bayi saya?

Hal ini membuat saya percaya dengan kalimat di awal tulisan ini, bahwa kebahagiaan adalah hal yang rapuh. Betapa kebahagiaan bisa hancur begitu saja dan digantikan oleh kesedihan. Betapa dalam setiap momen kebahagiaan ada kesedihan yang mengintai.

Saat pertama kali saya tau bahwa saya mengandung Emma, di usia kehamilan 7 minggu, saya sesungguhnya sudah diintai oleh kesedihan dan ketakutan. Karena tidak tau bahwa saya sudah hamil, di minggu-minggu itu saya tidak makan dan minum dengan benar, kecapekan dan banyak begadang, bahkan saya sempat naik roller coaster di Dunia Fantasi.

Saya sedih membayangkan bahwa bisa jadi anak ini tidak baik pembentukan tubuhnya. Saya sedih karena saya tidak mempersiapkan kehadirannya dengan baik. Saya sedih dan takut akan terjadi apa-apa dengannya. Namun nyatanya dia bertahan, anak ini sangat kuat.

Perkembangan tubuhnya, detak jantungnya, sangat baik dan sehat setiap bulannya. Kondisi badan dan kesehatan saya pun tidak ada masalah. Setiap bulan saya merasakan kebahagiaan yang bertambah dan terus membuncah. Saya pongah! Saya lupa akan kesedihan yang mengintai.

Hingga hari itu datang dan mengingatkan segalanya.

26 Januari 2019. Hari dimana kami harus memakamkannya.

Dimanakah rasa keadilan ketika orang tua harus menguburkan anaknya? Dimanakah rasa kepantasan ketika seorang kakak harus menangisi jasad adiknya? Mengapa dunia bisa begitu kejam?

Itulah puncak kesedihan hidup yang saya dan juga keluarga rasakan. Betapa kesedihan telah sabar mengintai dan menunggu dengan sabar selama 9 bulan dan berhasil menuai hasilnya di hari itu. Sebuah kesedihan dan kehancuran total yang ia jatuhkan kepada seorang, dua orang, tiga orang, sekian orang manusia. Sebuah kesedihan berlapis yang tiada ujungnya.

Hari itu hampir seluruh keluarga kami hadir. Saya yang tidak dapat hadir karena masih dirawat di rumah sakit, secara khusus meminta keluarga untuk datang dengan baju putih, sebuah warna yang menurut saya ‘sangat Emma’.

Saya ingat saat saya berbelanja baju untuk Emma beberapa minggu sebelumnya, semua berwarna putih. Bahkan sprei dan selimutnya yang sudah saya jahitkan untuknya, juga bernuansa putih. Sama putihnya dengan warna peti yang menaungi jasadnya. Sekali lagi, saya tidak tau mengapa saya memilih warna putih. Saya hanya merasa suka saja.

Mereka yang datang semua bercerita bahwa seluruh proses pemakaman Emma berlangsung sangat lancar dan baik, bahkan terkesan seperti sudah diatur dan dilancarkan. Emma yang baru keluar dari rumah sakit sekitar pukul 2 dini hari, langsung dapat disemayamkan di rumah kami dengan bantuan saudara, kerabat, tetangga dan teman-teman gereja papa dan mama saya.

Paginya sekitar pukul 8 dilangsungkan ibadat sabda yang dihadiri oleh banyak sekali orang yang mungkin sebagian diantaranya tidak mengenal saya sekeluarga. Semua datang atas dasar cinta dan murni ingin mendoakannya. Sahabat dan saudara saya yang hadir mengatakan betapa cantiknya Emma, dan betapa mereka yang melihat wajahnya dapat merasakan kesedihan, ketenangan sekaligus kebahagiaan yang dalam.

Sekitar pukul 11 siang Emma akhirnya dimakamkan di pemakaman Kali Mulya I, Depok. Ia mendapatkan tempat peristirahatan terakhir di area khusus pemakaman bayi-bayi, yang lokasinya sungguh strategis dan dekat dengan pintu masuk. Satu tempat terakhir yang seperti memang sudah disiapkan untuknya. Sebuah tempat dan lokasi yang seperti surga di dunia, kata Hendra.

Bagaimana dengan saya hari itu?

Saya tidak dapat tidur sama sekali sejak semalam. Pagi itu sejak Hendra meninggalkan saya untuk menghadiri ibadat sabda dan pemakaman, hal pertama yang saya lakukan adalah melamun, memandangi tembok dan plafon kosong yang ada di kamar rumah sakit. Pikiran dan hati saya blank, hanya air mata ini yang tidak dapat berhenti mengalir. Saya hanya ingin mati saat itu.

Beberapa menit saya sendirian hingga kemudian satu per satu sahabat saya datang. Ada yang datang untuk diam dan ikut menangis. Ada yang terus berbicara dan menguatkan. Ada yang terus membelai saya, menyiapkan tissue untuk mengelap air mata saya, hingga mendengarkan serpihan kata yang keluar dari mulut saya. Saya bahkan tidak tau bagaimana mereka bisa tau mengenai kabar perginya Emma semalam. Namun mereka semua hadir dengan porsinya masing-masing.

Seharian itu saya praktis sama sekali tidak pernah sendirian. Kamar rumah sakit itu penuh oleh para sahabat saya yang menemani sampai malam, hingga keluarga serta saudara-saudara yang terus berkunjung untuk mengucapkan duka cita. Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak saya temui sejak lama sekali. Namun mereka hadir lama hari itu.

Banyak dari mereka menyuruh saya untuk tidur dan beristirahat. Tapi saya tidak bisa. Padahal suster sudah menyuntikkan obat tidur banyak sekali ke infus saya. Nyatanya badan saya ngotot untuk bangun, untuk menikmati semua kesakitan dan kesedihan hari itu. Sekaligus untuk menikmati kebahagiaan dikelilingi oleh orang yang saya sayang dan menyayangi saya.

Hari itu saya merasakan ironi. Sebuah ironi bahwa kesedihan dan kebahagiaan dapat berpelukan dalam satu waktu. Sesungguhnya, hal itulah yang terjadi hari itu.


Teruntuk mereka yang menemani saya di hari itu dan setelahnya, terimakasih.

*Kalimat ini diambil dari cerita pendek Budak Cinta dalam kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Transit. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.

Kehilangan dan Meninggalkan


Di setiap rasa rindu,

terselip pengingat bahwa,

oleh sebab apapun kita selalu enggak pernah siap

untuk kehilangan.

Karenanya, setiap bersama dengan orang tercinta,

ingat bahwa entah kapan suatu hari nanti

pasti dia meninggalkanmu, atau kamu meninggalkannya.


-adjie santosoputro


*Tulisan ini diambil dari instagram @adjiesantosoputro

Tuesday, March 19, 2019

Hari Itu


Grant me the serenity to accept the things I cannot change,
 the courage to change the things I can,
and the wisdom to know the difference.
 (Serenity Prayer)

Sebelum memulai semuanya rasanya saya perlu bercerita mengenai hari itu.

Awalnya tidak ada yang aneh di hari Jumat, 25 Januari 2019 itu. Saya bangun tidur seperti biasa, lalu sarapan. Setelah itu mempersiapkan anak pertama saya Sarah untuk berangkat sekolah, kemudian mengantarnya ke gerbang seperti kebiasaan setiap hari.

Setelah Sarah berangkat sekolah, saya kembali lagi ke kamar kemudian tidur-tiduran sambil melihat video musik di youtube. Selanjutnya sekitar pukul 12 saya tertidur.

Saya terbangun sekitar jam 1 siang dan mandi karena Sarah akan segera pulang. Setiap Jumat biasanya dia selalu mengajak saya jalan-jalan ke mal atau nonton. Saat beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, saya merasa badan saya sangat ringan dan terasa enak. Padahal hari-hari sebelumnya saya merasa begah dan pegal karena usia kehamilan yang sudah cukup besar. Saya juga merasa suasana hati saya sangat baik hari itu.

Saya sungguh tidak memiliki firasat apapun akan hal berbeda yang rasakan tersebut. Saya malah merasa hal itu sebagai hal yang baik. Saya ingat sempat beberapa kali mengajak ngobrol Emma di dalam perut dan tidak merasakan pergerakan aktif seperti biasanya. Namun saya hanya berpikir bahwa dia sedang tidur.

Sepulangnya Sarah, saya pergi dulu ke rumah kami yang sedang direnovasi. Saya berada disana sekitar satu jam sebelum menjemput Sarah kembali untuk pergi ke Pondok Indah Mal (PIM). Sebelum pergi saya sempat whatsapp suami saya Hendra dan mengatakan bahwa pergerakan Emma kurang. Tapi saya tetap yakin dia sedang tidur dan merasa itu adalah hal yang biasa karena ukuran bayi yang sudah besar.

Sekitar pukul setengah 7 malam saat masih berada di PIM, saya kembali whatsapp Hendra dan mengatakan bahwa saya belum merasakan pergerakan aktif Emma. Ia menyuruh saya segera pulang dan ke rumah sakit untuk periksa. Saat itupun saya belum merasakan kecurigaan apapun. Bahkan saya berpikir bila saya ke rumah sakit dan dokter tidak ada, saya akan ke dokter keesokan harinya saja. Karena saya malas kalau harus ke UGD.

Ibarat sudah diatur, ternyata dokter saya praktik malam itu hingga jam 8 malam. Saya pesimis tiba di Rumah Sakit (RS) Puri Cinere yang ada di Cinere tepat waktu mengingat kemacetan jalanan malam itu. Namun saya berhasil sampai di RS jam 8 kurang 15.

Setibanya di poli kebidanan dan saya menceritakan ke suster apa yang saya rasakan, oleh suster saya langsung disuruh melakukan Cardiotocography (CTG) atau pemeriksaan untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim saat bayi dalam kandungan.

Jujur saat itu terbersit sedikit rasa panik dalam diri saya. Namun suster meyakinkan bahwa itu adalah prosedur biasa untuk memudahkan pemeriksaan dokter.

Saat suster akan memulai prosedur CTG dengan menempelkan alat dopler ke perut, entah kenapa saya merasa tegang. Saya menahan napas ketika suster sedang mencari detak jantung Emma dengan alat tersebut dan baru bisa bernapas lega ketika suster itu mengatakan, “Nah itu bu ada detak jantung bayinya.”

Proses CTG selama setengah jam itu terasa berjalan sangat lama sekali. Apalagi mesin CTG itu mengeluarkan suara detak jantung yang sangat kencang, yang entah mengapa tidak membuat saya tenang.

Akhirnya suster yang tadi memulai prosedur CTG datang kembali dan mulai membaca grafik jantung. Wajahnya terlihat bingung dan dia bertanya, "Ibu saat ini minggu ke berapa ya?" Saat saya menjawab 36 minggu, dia kemudian keluar ruangan dan kembali dengan dua rekannya. Mereka bertiga kemudian berbicara sambil membaca grafik sambil salah satu berkata, “Memang begitu kok kalau sudah kehamilan besar.” Satu lagi berkata, “Coba diulang lagi!”

Melihat itu saya tentu bingung dan jadi agak panik, tapi saya tidak memiliki firasat buruk. Saat saya bertanya ada apa, mereka bertiga serempak menjawab tidak ada apa-apa dan meminta saya bersiap bertemu dokter di ruang praktiknya. Saya kemudian berjalan keluar bertemu Sarah yang saat itu masih ditemani supir saya, karena Hendra masih dalam perjalanan ke RS. Saat Sarah bertanya bagaimana hasil pemeriksaannya, saya berseloroh sambil tertawa  kepada Sarah, “Wah jangan-jangan adek sudah mau lahir hari ini Sar.”

Saya tidak menyangka bahwa beberapa menit setelah perkataan itu saya akan masuk ke dalam neraka. Saat saya melangkah masuk ke ruang praktik dokter saya yaitu Dokter Waluyo Turatmo SpOG, saya melihatnya sedang memeriksa hasil CTG saya. Kemudian dia berkata, “Ini ada apa, hasilnya jelek. Detak jantungnya hanya 100. ”

Dokter Waluyo lantas langsung menjalankan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Pertama alat periksa diletakkan, terlihat posisi kepalanya. Kemudian dalam hitungan detik dia mulai memindahkan alat periksa sambil memencet-mencet tombol yang ada pada mesin USG.

Klik, terlihat bagian badan Emma dengan jantung yang sudah tidak berkedip.

Klik, terlihat grafik yang sudah berhenti, dimana dalam keadaan normal biasanya grafik jantung itu bergerak dan berbunyi.

Semuanya musnah.

Hanya terdengar suara Dokter Waluyo yang mengatakan, “Ini jantungnya sudah tidak ada.”

Saya langsung berteriak histeris dan menangis kencang sekali. Saya ingat betul menarik bagian bawah kemeja Dokter Waluyo sambil berteriak, dokter tolong, dokter tolong anak saya. Saya menangis, meraung, sambil berteriak memanggil Sarah yang juga berada di ruangan itu.

Dalam kondisi tersebut saya mendengar Dokter Waluyo mengatakan bahwa dia melihat ada sedikit gerakan udara di bagian plasenta yang mungkin dapat menjadi indikasi masih adanya kehidupan meski harapannya tipis. Dia mengatakan apapun yang terjadi harus dilakukan operasi caesar malam itu juga.

Bak adegan dalam sinetron, saya langsung digiring keluar ruang praktik oleh para suster menggunakan kursi roda untuk melakukan persiapan operasi. Saat keluar ruangan, Hendra sudah menunggu di luar dan bertanya ada apa. Saya hanya berkata sambil menangis histeris, “Detak jantungnya sudah enggak ada, Hen.”

Di ruang persiapan operasi saya sudah seperti zombie. Saya tau saat baju saya diganti, saat para suster menanyai saya ini itu, meminta tanda tangan, melakukan suntik tes alergi, tapi pikiran dan pandangan saya mengawang-ngawang. Saya merasa ini tidak nyata dan tidak percaya hal ini bisa terjadi kepada saya.

Saya ingat para suster mengingatkan saya untuk tidak bengong dan berdoa. Saya ingat saya terus merapal doa Bapa Kami dan Salam Maria. Saya ingat saya mencari mama saya.

1,5 jam hingga akhirnya saya memasuki ruang operasi. Semua karena proses administrasi rumah sakit yang panjang serta menunggu datangnya dokter anestesi. Saya melihat jam di ruang operasi yang menunjukkan pukul 10 malam saat operasi itu akan dimulai. Itu adalah waktu yang sama dengan waktu kelahiran Sarah.

Saya masih ingat semuanya. Saya ingat saat Dokter Waluyo seperti kesulitan menarik Emma keluar dari perut saya, sehingga dokter anestesi harus membantu mendorongnya dari bagian atas perut saya. Saya ingat saat dokter berhasil mengeluarkan Emma dan saya bertanya apakah bayi saya sudah keluar. Dokter menjawab sudah tetapi belum menangis.

Setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi. Ternyata dokter menidurkan saya hingga saya akhirnya terbangun kembali di ruang operasi jam 12 malam. Di ruang operasi itu hanya ada dua perawat yang tengah membersihkan badan saya, dan dokter anestesi di belakang saya. Saya langsung bertanya, “Anak saya bagaimana suster?”

Salah seorang suster itu, suster pria, menjawab, “Nanti dengan dokternya ya bu, tadi ibu mau diberitahu tapi sedang tidur.”

Saya merasa mati rasa detik itu. Hati kecil saya merasa sudah tau, bahwa Emma sudah pergi. Tapi saya tidak mau mengakuinya dulu. Tolong jangan, tolong jangan, kata saya dalam hati.

Saya kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan, tidak jauh dari ruang operasi tersebut. Saya ingat saya bertanya lagi kepada suster perempuan yang ada disitu. “Anak saya bagaimana suster?”

Suster tersebut mendekati saya dan memandang saya lekat. “Nanti dengan suami ibu ya yang menjelaskan.”

Entah kenapa saya lalu merasa lelah sekali. Saya terus mendapat jawaban yang tidak jelas dan mengambang. Saya pun memutuskan menutup mata sampai akhirnya Hendra datang dan mencium pipi saya,kening, mata.

 “Bagaimana Emma?” tanya saya. Dia hanya memandangi saya dan kemudian menggeleng. Emma sudah pergi.

Selanjutnya hanya terdengar suara tangis yang memilukan. Sebuah tangis yang menggambarkan bunyi neraka yang terdalam. Neraka yang harus dialami oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Seorang anak yang bahkan belum pernah ia sentuh.

Saya tidak terima. Saya ingin mati malam itu. Suster yang berjaga terus mengingatkan saya karena detak jantung dan tekanan darah saya yang meningkat drastis saat saya tengah histeris. Hendra terus memeluk dan menguatkan. Saya terus menangis dan meraung.

Ini apa sebenarnya? Apakah saya sedang bermimpi? Tolong saya. Tolong keluarkan saya dari mimpi buruk ini. Tapi bak cerita sekuel, mimpi buruk itu terus berlanjut dan tidak mau berhenti.

Setelah agak tenang saya bertanya kepada Hendra, “Emma seperti apa?” Dia bilang dia akan memperlihatkan fotonya asal saya janji tidak menangis. Janji yang tentu tidak saya tepati.

Saat melihat fotonya satu per satu, perasaan saya sungguh campur aduk. Saya tidak menyangka bayi yang meninggal di kandungan rupanya bisa sebegitu bersih dan secantik ini. Saya memandangi wajahnya dalam foto yang sangat mirip kakak dan papanya. Ternyata meski berbeda umur hampir 8 tahun dengan kakaknya, rupa keduanya bisa tetap sangat mirip.

Saya kemudian meminta kepada Hendra untuk bertemu dengan Emma. Tapi Hendra menolak dengan alasan takut saya trauma dan juga kondisi kesehatan saya yang kurang baik. Saya pun sebenarnya agak takut, karena tidak tau akan bereaksi seperti apa.

Tapi saya tetap memaksa untuk bertemu.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah 2 pagi ketika saya akhirnya melihat Hendra memasuki ruangan bersama seorang suster yang menggiring tempat tidur bayi. Suster itu lalu menaruh tempat tidur bayi tersebut di sebelah tempat tidur saya, membuka kain lampin putih yang membungkus Emma, kemudian pelan-pelan mengangkat dan memberikannya ke pelukan saya.

Ada rekaman video yang menunjukkan betapa sedetik wajah saya sumringah saat suster tersebut menyerahkan Emma ke pelukan saya, layaknya wajah seorang ibu yang akan menggendong anaknya pertama kali. Hanya sedetik, yang kemudian digantikan oleh tangis dan sedih yang tak tertahankan. Perasaan saya sangat sedih dan hancur sekali.

Tangan kanan saya memeluk tubuhnya yang kecil dan ringkih. Wajah kami berdua begitu dekat dan lekat. Dengan berlinangan air mata saya pandangi wajahnya, matanya yang tertutup, hidung dan bibirnya yang mungil hingga alisnya yang belum tumbuh. Saya ciumi terus pipi kirinya yang menempel dengan wajah saya. Jari tangan kiri saya yang gemetaran menelusuri wajahnya, kulitnya, rambutnya, tubuhnya sambil terus mengucap betapa cantiknya dia. Betul-betul cantik dan sempurna.

Itulah saat pertama dan terakhir saya bertemu dan menyentuh Emma. Sebuah momentum yang tidak akan terulang, dan akan terus tersimpan di dalam relung hati ini hingga akhir hayat. Sebuah saat, yang bila teringat selalu membuat hati dan mata ini hangat.

Saya tidak akan pernah tau kemana dia pergi atau kepada siapa. Yang saya tau pasti, setengah bagian diri saya hilang malam itu, dan setengah lainnya hancur berantakan.

*Emma Karina Soe lahir meninggal (stillbirth) di RS Puri Cinere lewat prosedur operasi caesar pada 25 Januari 2019 di usia kehamilan 36 minggu, dengan berat 2,28 kilogram dan panjang 48 cm. Dokter yang menangani selama proses kehamilan dan kelahiran adalah Dokter Waluyo Turatmo SpOG.