Pada suatu hari Minggu saya mendengar sebuah khotbah yang berjudul ‘Never About Me’*. Isi khotbah itu intinya begini. Sejak awal manusia diciptakan, ada 3 hal yang sudah ditetapkan oleh sang Pencipta. Yang pertama, manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Kedua, Tuhan memberikan manusia tugas, yakni untuk memelihara bumi dan segala isinya. Dan yang ketiga, Tuhan memberikan manusia tujuan, dimana tujuan utama adalah menegakkan kerajaan Allah di dunia. Semua itu adalah rangkuman dari kitab Kejadian 1: 26-28.
Bila kita percaya dengan itu semua, maka
secara otomatis kita akan berpikir bahwa hidup ini sebenarnya pada intinya
tentang Tuhan, untuk Tuhan, dan untuk menjalankan tujuan Tuhan. Apapun yang
terjadi di hidup kita, apapun yang kita lakukan, itu tentang menjadikan tujuan
Tuhan. Semua itu tidak pernah tentang saya, kamu, kita. Tapi tentang Tuhan.
Waktu mendengar khotbah itu, otomatis saya
langsung menghubungkan dengan pengalaman saya kehilangan Emma. Bagaimana saya
selalu menyalahkan diri, dan merasa seolah semua yang terjadi adalah hukuman
terhadap hidup saya. It’s all about me, my karma. Tapi bagaimana kalau
ini sebenarnya sama sekali bukan tentang saya?
Bisa jadi saya hanya adalah sebuah tools
atau alat atau perantara untuk menjadikan tujuanNya terhadap Emma, atau
sebagian orang menyebutnya takdir Emma. Takdirnya sebagai benih, janin yang
tinggal di rahim saya hingga 9 bulan kemudian pergi, entah kemana. That’s
it. I’m just the tools, the medium, you name it.
Meski memiliki pemikiran seperti ini apakah
kemudian saya menjadi tidak merasa bersalah? Sama sekali tidak. Rasa bersalah
itu masih ada. Perasaan sedih, hancur, masih sering muncul. Tapi sekarang
setiap perasaan bersalah itu muncul saya bisa bilang ke pikiran saya, hei Nov, actually
it’s not about you, it’s never about you. Atau bisa dibilang, ini sudah
jalannya atau ini sudah jalanNya.
Kadang gampang menerimanya, tapi lebih
seringnya sulit sekali. Meski perjalanan ini sudah berjalan hampir 3 tahun.
Saya pernah mendengar kalimat ini dalam sebuah
web series** yang saya tonton di Youtube: ‘Terkadang kita enggak pernah tau siapa
yang akan mengetuk pintu kehidupan kita. Bisa berkat, bisa aja masalah, ataupun
masa lalu kita. Namun, perlu hati yang damai untuk bisa menerima yang datang,
apapun itu.’
Nah, hati yang damai itulah yang sedang
saya usahakan.
**JPCC Christmas Web Series 2021 episode
3, disiarkan pada 25 Desember 2021