Home

Tuesday, January 11, 2022

Never About Me


Pada suatu hari Minggu saya mendengar sebuah khotbah yang berjudul ‘Never About Me’*. Isi khotbah itu intinya begini. Sejak awal manusia diciptakan, ada 3 hal yang sudah ditetapkan oleh sang Pencipta. Yang pertama, manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Kedua, Tuhan memberikan manusia tugas, yakni untuk memelihara bumi dan segala isinya. Dan yang ketiga, Tuhan memberikan manusia tujuan, dimana tujuan utama adalah menegakkan kerajaan Allah di dunia. Semua itu adalah rangkuman dari kitab Kejadian 1: 26-28.

Bila kita percaya dengan itu semua, maka secara otomatis kita akan berpikir bahwa hidup ini sebenarnya pada intinya tentang Tuhan, untuk Tuhan, dan untuk menjalankan tujuan Tuhan. Apapun yang terjadi di hidup kita, apapun yang kita lakukan, itu tentang menjadikan tujuan Tuhan. Semua itu tidak pernah tentang saya, kamu, kita. Tapi tentang Tuhan.

Waktu mendengar khotbah itu, otomatis saya langsung menghubungkan dengan pengalaman saya kehilangan Emma. Bagaimana saya selalu menyalahkan diri, dan merasa seolah semua yang terjadi adalah hukuman terhadap hidup saya. It’s all about me, my karma. Tapi bagaimana kalau ini sebenarnya sama sekali bukan tentang saya?

Bisa jadi saya hanya adalah sebuah tools atau alat atau perantara untuk menjadikan tujuanNya terhadap Emma, atau sebagian orang menyebutnya takdir Emma. Takdirnya sebagai benih, janin yang tinggal di rahim saya hingga 9 bulan kemudian pergi, entah kemana. That’s it. I’m just the tools, the medium, you name it.

Meski memiliki pemikiran seperti ini apakah kemudian saya menjadi tidak merasa bersalah? Sama sekali tidak. Rasa bersalah itu masih ada. Perasaan sedih, hancur, masih sering muncul. Tapi sekarang setiap perasaan bersalah itu muncul saya bisa bilang ke pikiran saya, hei Nov, actually it’s not about you, it’s never about you. Atau bisa dibilang, ini sudah jalannya atau ini sudah jalanNya.

Kadang gampang menerimanya, tapi lebih seringnya sulit sekali. Meski perjalanan ini sudah berjalan hampir 3 tahun.

Saya pernah mendengar kalimat ini dalam sebuah web series** yang saya tonton di Youtube: ‘Terkadang kita enggak pernah tau siapa yang akan mengetuk pintu kehidupan kita. Bisa berkat, bisa aja masalah, ataupun masa lalu kita. Namun, perlu hati yang damai untuk bisa menerima yang datang, apapun itu.’

Nah, hati yang damai itulah yang sedang saya usahakan.


 *Khotbah dibawakan oleh Ps. Alvi Radjagukguk pada JPCC Online Service tanggal 28 November 2021

**JPCC Christmas Web Series 2021 episode 3, disiarkan pada 25 Desember 2021