Pekan lalu saat saya mengunjungi makam Emma, ada sebuah
makam baru di sebelahnya. Makam seorang bayi berumur 7 bulan bernama Letisha,
yang baru dimakamkan 5 hari sebelum kedatangan kami.
Entah mengapa air mata saya langsung menetes dan hati ini
terasa sakit seperti dipelintir saat melihat makam Letisha. Saya merasa ikut sedih
padahal saya tidak mengenalnya. Saya merasa ikut mengalami kesakitan orang tua
Letisha.
Saya jadi teringat lagi pengalaman saya saat pertama kali
mengunjungi makam Emma, tepatnya tanggal 16 Februari 2019 atau hampir tiga
minggu sejak kepergiannya. Saya ingat hati saya kalut sepanjang perjalanan, dan
mata ini terus mengeluarkan air mata. Dalam hati saya terus berpikir nanti akan
bereaksi seperti apa.
Kami datang bertiga waktu itu. Saya, Hendra dan Sarah. Hendra
membeli bunga tabur dan air mawar yang dijual oleh ibu penjaga disitu karena
kami tidak sempat membeli bunga di toko bunga. Hujan turun rintik-rintik saat
kami tiba.
Saya berusaha kuat saat turun dari mobil menuju ke makam Emma yang letaknya sangat dekat dari lokasi parkiran. Dalam hati saya
bilang, jangan nangis, jangan nangis. Tapi begitu tiba persis di depan
makamnya, ternyata saya tidak kuat. Saya menangis seru sampai sesungukan.
Tiba-tiba hujan turun menjadi lebat dan deras sekali,
disertai angin kencang yang membuat kami basah kuyub.
Akhirnya kami memutuskan lari kembali ke dalam mobil untuk
berteduh sampai hujan reda. Ada sekitar 15 menit kami menunggu hingga hujan
mereda, dan dalam waktu tersebut, saya ingat saya berjanji untuk tenang dan
tidak menangis. Saya ingat setelah saya benar-benar bisa berhenti menangis, kemudian
hujan mereda, rintik-rintik, berhenti, lalu langit berangsur cerah dan putih
kembali. Apakah itu sebuah kebetulan? Entahlah.
Hari itu agenda saya hanya memandangi makam Emma. Saya tidak
bisa melakukan seperti yang biasa dilakukan orang kalau mengunjungi makam
seperti mengajak ngobrol atau mendoakan. Saya hanya mematung, memandangi makam
Emma dengan tidak percaya. Semua masih terasa seperti mimpi.
Namun, ketika kami pulang, entah mengapa saya merasakan
sebuah kelegaan. Teman-teman saya menyebutnya sebagai sebuah closure, sebuah penutupan. Tapi
bagaimana itu bisa disebut sebagai sebuah closure
bila itu malah menjadi awal sebuah ritual?
Sejak hari itu kami rutin mengunjungi makam Emma setiap dua
minggu sekali, selalu di hari Minggu. Seringnya kami datang berlima bersama
orang tua saya. Bila ada kami akan membawakan mawar putih, atau bunga lain, namun
pastinya berwarna putih. Setiap orang menancapkan satu bunga.
Di setiap kunjungan saya masih terus menangis, masih suka
lama menatap makamnya. Tapi di setiap kunjungan itu selalu ada progressnya. Awalnya
saya bisa menegurnya, kemudian saya mulai bisa bercerita kepadanya, lama-lama
saya mulai mendoakannya dengan cara saya sendiri. Terakhir bahkan saya bisa
menepuk-nepuk bagian bawah makamnya seperti sedang menidurkannya di boks bayi.
Tanpa saya sadari, mengunjungi makam Emma saat ini menjadi
hal yang saya tuju setiap bulan. Lewat seminggu setelah saya berkunjung, saya
akan tidak sabar menunggu minggu depan untuk kembali mengunjungi makamnya. Setiap
hari Minggu pagi pasti saya sudah gelisah dan tidak sabar untuk berangkat ke
makam. Mengunjungi Emma sekarang seperti menjadi sebuah kebutuhan.
Rasanya saya ibaratkan seperti pulang ke rumah.

