Home

Tuesday, March 19, 2019

Hari Itu


Grant me the serenity to accept the things I cannot change,
 the courage to change the things I can,
and the wisdom to know the difference.
 (Serenity Prayer)

Sebelum memulai semuanya rasanya saya perlu bercerita mengenai hari itu.

Awalnya tidak ada yang aneh di hari Jumat, 25 Januari 2019 itu. Saya bangun tidur seperti biasa, lalu sarapan. Setelah itu mempersiapkan anak pertama saya Sarah untuk berangkat sekolah, kemudian mengantarnya ke gerbang seperti kebiasaan setiap hari.

Setelah Sarah berangkat sekolah, saya kembali lagi ke kamar kemudian tidur-tiduran sambil melihat video musik di youtube. Selanjutnya sekitar pukul 12 saya tertidur.

Saya terbangun sekitar jam 1 siang dan mandi karena Sarah akan segera pulang. Setiap Jumat biasanya dia selalu mengajak saya jalan-jalan ke mal atau nonton. Saat beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, saya merasa badan saya sangat ringan dan terasa enak. Padahal hari-hari sebelumnya saya merasa begah dan pegal karena usia kehamilan yang sudah cukup besar. Saya juga merasa suasana hati saya sangat baik hari itu.

Saya sungguh tidak memiliki firasat apapun akan hal berbeda yang rasakan tersebut. Saya malah merasa hal itu sebagai hal yang baik. Saya ingat sempat beberapa kali mengajak ngobrol Emma di dalam perut dan tidak merasakan pergerakan aktif seperti biasanya. Namun saya hanya berpikir bahwa dia sedang tidur.

Sepulangnya Sarah, saya pergi dulu ke rumah kami yang sedang direnovasi. Saya berada disana sekitar satu jam sebelum menjemput Sarah kembali untuk pergi ke Pondok Indah Mal (PIM). Sebelum pergi saya sempat whatsapp suami saya Hendra dan mengatakan bahwa pergerakan Emma kurang. Tapi saya tetap yakin dia sedang tidur dan merasa itu adalah hal yang biasa karena ukuran bayi yang sudah besar.

Sekitar pukul setengah 7 malam saat masih berada di PIM, saya kembali whatsapp Hendra dan mengatakan bahwa saya belum merasakan pergerakan aktif Emma. Ia menyuruh saya segera pulang dan ke rumah sakit untuk periksa. Saat itupun saya belum merasakan kecurigaan apapun. Bahkan saya berpikir bila saya ke rumah sakit dan dokter tidak ada, saya akan ke dokter keesokan harinya saja. Karena saya malas kalau harus ke UGD.

Ibarat sudah diatur, ternyata dokter saya praktik malam itu hingga jam 8 malam. Saya pesimis tiba di Rumah Sakit (RS) Puri Cinere yang ada di Cinere tepat waktu mengingat kemacetan jalanan malam itu. Namun saya berhasil sampai di RS jam 8 kurang 15.

Setibanya di poli kebidanan dan saya menceritakan ke suster apa yang saya rasakan, oleh suster saya langsung disuruh melakukan Cardiotocography (CTG) atau pemeriksaan untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim saat bayi dalam kandungan.

Jujur saat itu terbersit sedikit rasa panik dalam diri saya. Namun suster meyakinkan bahwa itu adalah prosedur biasa untuk memudahkan pemeriksaan dokter.

Saat suster akan memulai prosedur CTG dengan menempelkan alat dopler ke perut, entah kenapa saya merasa tegang. Saya menahan napas ketika suster sedang mencari detak jantung Emma dengan alat tersebut dan baru bisa bernapas lega ketika suster itu mengatakan, “Nah itu bu ada detak jantung bayinya.”

Proses CTG selama setengah jam itu terasa berjalan sangat lama sekali. Apalagi mesin CTG itu mengeluarkan suara detak jantung yang sangat kencang, yang entah mengapa tidak membuat saya tenang.

Akhirnya suster yang tadi memulai prosedur CTG datang kembali dan mulai membaca grafik jantung. Wajahnya terlihat bingung dan dia bertanya, "Ibu saat ini minggu ke berapa ya?" Saat saya menjawab 36 minggu, dia kemudian keluar ruangan dan kembali dengan dua rekannya. Mereka bertiga kemudian berbicara sambil membaca grafik sambil salah satu berkata, “Memang begitu kok kalau sudah kehamilan besar.” Satu lagi berkata, “Coba diulang lagi!”

Melihat itu saya tentu bingung dan jadi agak panik, tapi saya tidak memiliki firasat buruk. Saat saya bertanya ada apa, mereka bertiga serempak menjawab tidak ada apa-apa dan meminta saya bersiap bertemu dokter di ruang praktiknya. Saya kemudian berjalan keluar bertemu Sarah yang saat itu masih ditemani supir saya, karena Hendra masih dalam perjalanan ke RS. Saat Sarah bertanya bagaimana hasil pemeriksaannya, saya berseloroh sambil tertawa  kepada Sarah, “Wah jangan-jangan adek sudah mau lahir hari ini Sar.”

Saya tidak menyangka bahwa beberapa menit setelah perkataan itu saya akan masuk ke dalam neraka. Saat saya melangkah masuk ke ruang praktik dokter saya yaitu Dokter Waluyo Turatmo SpOG, saya melihatnya sedang memeriksa hasil CTG saya. Kemudian dia berkata, “Ini ada apa, hasilnya jelek. Detak jantungnya hanya 100. ”

Dokter Waluyo lantas langsung menjalankan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Pertama alat periksa diletakkan, terlihat posisi kepalanya. Kemudian dalam hitungan detik dia mulai memindahkan alat periksa sambil memencet-mencet tombol yang ada pada mesin USG.

Klik, terlihat bagian badan Emma dengan jantung yang sudah tidak berkedip.

Klik, terlihat grafik yang sudah berhenti, dimana dalam keadaan normal biasanya grafik jantung itu bergerak dan berbunyi.

Semuanya musnah.

Hanya terdengar suara Dokter Waluyo yang mengatakan, “Ini jantungnya sudah tidak ada.”

Saya langsung berteriak histeris dan menangis kencang sekali. Saya ingat betul menarik bagian bawah kemeja Dokter Waluyo sambil berteriak, dokter tolong, dokter tolong anak saya. Saya menangis, meraung, sambil berteriak memanggil Sarah yang juga berada di ruangan itu.

Dalam kondisi tersebut saya mendengar Dokter Waluyo mengatakan bahwa dia melihat ada sedikit gerakan udara di bagian plasenta yang mungkin dapat menjadi indikasi masih adanya kehidupan meski harapannya tipis. Dia mengatakan apapun yang terjadi harus dilakukan operasi caesar malam itu juga.

Bak adegan dalam sinetron, saya langsung digiring keluar ruang praktik oleh para suster menggunakan kursi roda untuk melakukan persiapan operasi. Saat keluar ruangan, Hendra sudah menunggu di luar dan bertanya ada apa. Saya hanya berkata sambil menangis histeris, “Detak jantungnya sudah enggak ada, Hen.”

Di ruang persiapan operasi saya sudah seperti zombie. Saya tau saat baju saya diganti, saat para suster menanyai saya ini itu, meminta tanda tangan, melakukan suntik tes alergi, tapi pikiran dan pandangan saya mengawang-ngawang. Saya merasa ini tidak nyata dan tidak percaya hal ini bisa terjadi kepada saya.

Saya ingat para suster mengingatkan saya untuk tidak bengong dan berdoa. Saya ingat saya terus merapal doa Bapa Kami dan Salam Maria. Saya ingat saya mencari mama saya.

1,5 jam hingga akhirnya saya memasuki ruang operasi. Semua karena proses administrasi rumah sakit yang panjang serta menunggu datangnya dokter anestesi. Saya melihat jam di ruang operasi yang menunjukkan pukul 10 malam saat operasi itu akan dimulai. Itu adalah waktu yang sama dengan waktu kelahiran Sarah.

Saya masih ingat semuanya. Saya ingat saat Dokter Waluyo seperti kesulitan menarik Emma keluar dari perut saya, sehingga dokter anestesi harus membantu mendorongnya dari bagian atas perut saya. Saya ingat saat dokter berhasil mengeluarkan Emma dan saya bertanya apakah bayi saya sudah keluar. Dokter menjawab sudah tetapi belum menangis.

Setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi. Ternyata dokter menidurkan saya hingga saya akhirnya terbangun kembali di ruang operasi jam 12 malam. Di ruang operasi itu hanya ada dua perawat yang tengah membersihkan badan saya, dan dokter anestesi di belakang saya. Saya langsung bertanya, “Anak saya bagaimana suster?”

Salah seorang suster itu, suster pria, menjawab, “Nanti dengan dokternya ya bu, tadi ibu mau diberitahu tapi sedang tidur.”

Saya merasa mati rasa detik itu. Hati kecil saya merasa sudah tau, bahwa Emma sudah pergi. Tapi saya tidak mau mengakuinya dulu. Tolong jangan, tolong jangan, kata saya dalam hati.

Saya kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan, tidak jauh dari ruang operasi tersebut. Saya ingat saya bertanya lagi kepada suster perempuan yang ada disitu. “Anak saya bagaimana suster?”

Suster tersebut mendekati saya dan memandang saya lekat. “Nanti dengan suami ibu ya yang menjelaskan.”

Entah kenapa saya lalu merasa lelah sekali. Saya terus mendapat jawaban yang tidak jelas dan mengambang. Saya pun memutuskan menutup mata sampai akhirnya Hendra datang dan mencium pipi saya,kening, mata.

 “Bagaimana Emma?” tanya saya. Dia hanya memandangi saya dan kemudian menggeleng. Emma sudah pergi.

Selanjutnya hanya terdengar suara tangis yang memilukan. Sebuah tangis yang menggambarkan bunyi neraka yang terdalam. Neraka yang harus dialami oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Seorang anak yang bahkan belum pernah ia sentuh.

Saya tidak terima. Saya ingin mati malam itu. Suster yang berjaga terus mengingatkan saya karena detak jantung dan tekanan darah saya yang meningkat drastis saat saya tengah histeris. Hendra terus memeluk dan menguatkan. Saya terus menangis dan meraung.

Ini apa sebenarnya? Apakah saya sedang bermimpi? Tolong saya. Tolong keluarkan saya dari mimpi buruk ini. Tapi bak cerita sekuel, mimpi buruk itu terus berlanjut dan tidak mau berhenti.

Setelah agak tenang saya bertanya kepada Hendra, “Emma seperti apa?” Dia bilang dia akan memperlihatkan fotonya asal saya janji tidak menangis. Janji yang tentu tidak saya tepati.

Saat melihat fotonya satu per satu, perasaan saya sungguh campur aduk. Saya tidak menyangka bayi yang meninggal di kandungan rupanya bisa sebegitu bersih dan secantik ini. Saya memandangi wajahnya dalam foto yang sangat mirip kakak dan papanya. Ternyata meski berbeda umur hampir 8 tahun dengan kakaknya, rupa keduanya bisa tetap sangat mirip.

Saya kemudian meminta kepada Hendra untuk bertemu dengan Emma. Tapi Hendra menolak dengan alasan takut saya trauma dan juga kondisi kesehatan saya yang kurang baik. Saya pun sebenarnya agak takut, karena tidak tau akan bereaksi seperti apa.

Tapi saya tetap memaksa untuk bertemu.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah 2 pagi ketika saya akhirnya melihat Hendra memasuki ruangan bersama seorang suster yang menggiring tempat tidur bayi. Suster itu lalu menaruh tempat tidur bayi tersebut di sebelah tempat tidur saya, membuka kain lampin putih yang membungkus Emma, kemudian pelan-pelan mengangkat dan memberikannya ke pelukan saya.

Ada rekaman video yang menunjukkan betapa sedetik wajah saya sumringah saat suster tersebut menyerahkan Emma ke pelukan saya, layaknya wajah seorang ibu yang akan menggendong anaknya pertama kali. Hanya sedetik, yang kemudian digantikan oleh tangis dan sedih yang tak tertahankan. Perasaan saya sangat sedih dan hancur sekali.

Tangan kanan saya memeluk tubuhnya yang kecil dan ringkih. Wajah kami berdua begitu dekat dan lekat. Dengan berlinangan air mata saya pandangi wajahnya, matanya yang tertutup, hidung dan bibirnya yang mungil hingga alisnya yang belum tumbuh. Saya ciumi terus pipi kirinya yang menempel dengan wajah saya. Jari tangan kiri saya yang gemetaran menelusuri wajahnya, kulitnya, rambutnya, tubuhnya sambil terus mengucap betapa cantiknya dia. Betul-betul cantik dan sempurna.

Itulah saat pertama dan terakhir saya bertemu dan menyentuh Emma. Sebuah momentum yang tidak akan terulang, dan akan terus tersimpan di dalam relung hati ini hingga akhir hayat. Sebuah saat, yang bila teringat selalu membuat hati dan mata ini hangat.

Saya tidak akan pernah tau kemana dia pergi atau kepada siapa. Yang saya tau pasti, setengah bagian diri saya hilang malam itu, dan setengah lainnya hancur berantakan.

*Emma Karina Soe lahir meninggal (stillbirth) di RS Puri Cinere lewat prosedur operasi caesar pada 25 Januari 2019 di usia kehamilan 36 minggu, dengan berat 2,28 kilogram dan panjang 48 cm. Dokter yang menangani selama proses kehamilan dan kelahiran adalah Dokter Waluyo Turatmo SpOG.

No comments:

Post a Comment