Grant me the serenity to accept the things I cannot change,
the courage to change the things
I can,
and the wisdom to know the difference.
(Serenity Prayer)
Sebelum memulai semuanya rasanya saya perlu bercerita
mengenai hari itu.
Awalnya tidak ada yang aneh di hari Jumat, 25 Januari 2019
itu. Saya bangun tidur seperti biasa, lalu sarapan. Setelah itu mempersiapkan
anak pertama saya Sarah untuk berangkat sekolah, kemudian mengantarnya ke
gerbang seperti kebiasaan setiap hari.
Setelah Sarah berangkat sekolah, saya kembali lagi ke kamar
kemudian tidur-tiduran sambil melihat video musik di youtube. Selanjutnya
sekitar pukul 12 saya tertidur.
Saya terbangun sekitar jam 1 siang dan mandi karena Sarah
akan segera pulang. Setiap Jumat biasanya dia selalu mengajak saya jalan-jalan
ke mal atau nonton. Saat beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, saya
merasa badan saya sangat ringan dan terasa enak. Padahal hari-hari sebelumnya
saya merasa begah dan pegal karena usia kehamilan yang sudah cukup besar.
Saya juga merasa suasana hati saya sangat baik hari itu.
Saya sungguh tidak memiliki firasat apapun akan hal berbeda
yang rasakan tersebut. Saya malah merasa hal itu sebagai hal yang baik. Saya
ingat sempat beberapa kali mengajak ngobrol Emma di dalam perut dan tidak
merasakan pergerakan aktif seperti biasanya. Namun saya hanya berpikir bahwa
dia sedang tidur.
Sepulangnya Sarah, saya pergi dulu ke rumah kami yang sedang
direnovasi. Saya berada disana sekitar satu jam sebelum menjemput Sarah kembali
untuk pergi ke Pondok Indah Mal (PIM). Sebelum pergi saya sempat whatsapp suami
saya Hendra dan mengatakan bahwa pergerakan Emma kurang. Tapi saya tetap yakin
dia sedang tidur dan merasa itu adalah hal yang biasa karena ukuran bayi yang
sudah besar.
Sekitar pukul setengah 7 malam saat masih berada di PIM,
saya kembali whatsapp Hendra dan mengatakan bahwa saya belum merasakan
pergerakan aktif Emma. Ia menyuruh saya segera pulang dan ke rumah sakit untuk
periksa. Saat itupun saya belum merasakan kecurigaan apapun. Bahkan saya
berpikir bila saya ke rumah sakit dan dokter tidak ada, saya akan ke dokter
keesokan harinya saja. Karena saya malas kalau harus ke UGD.
Ibarat sudah diatur, ternyata dokter saya praktik malam itu
hingga jam 8 malam. Saya pesimis tiba di Rumah Sakit (RS) Puri Cinere yang ada
di Cinere tepat waktu mengingat kemacetan jalanan malam itu. Namun saya
berhasil sampai di RS jam 8 kurang 15.
Setibanya di poli kebidanan dan saya menceritakan ke suster
apa yang saya rasakan, oleh suster saya langsung disuruh melakukan Cardiotocography
(CTG) atau pemeriksaan untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim
saat bayi dalam kandungan.
Jujur saat itu terbersit sedikit rasa panik dalam diri saya.
Namun suster meyakinkan bahwa itu adalah prosedur biasa untuk memudahkan
pemeriksaan dokter.
Saat suster akan memulai prosedur CTG dengan menempelkan
alat dopler ke perut, entah kenapa saya merasa tegang. Saya menahan napas
ketika suster sedang mencari detak jantung Emma dengan alat tersebut dan baru
bisa bernapas lega ketika suster itu mengatakan, “Nah itu bu ada detak jantung
bayinya.”
Proses CTG selama setengah jam itu terasa berjalan sangat
lama sekali. Apalagi mesin CTG itu mengeluarkan suara detak jantung yang sangat
kencang, yang entah mengapa tidak membuat saya tenang.
Akhirnya suster yang tadi memulai prosedur CTG datang
kembali dan mulai membaca grafik jantung. Wajahnya terlihat bingung dan dia
bertanya, "Ibu saat ini minggu ke berapa ya?" Saat saya menjawab 36 minggu, dia
kemudian keluar ruangan dan kembali dengan dua rekannya. Mereka bertiga
kemudian berbicara sambil membaca grafik sambil salah satu berkata, “Memang
begitu kok kalau sudah kehamilan besar.” Satu lagi berkata, “Coba diulang
lagi!”
Melihat itu saya tentu bingung dan jadi agak panik, tapi
saya tidak memiliki firasat buruk. Saat saya bertanya ada apa, mereka bertiga
serempak menjawab tidak ada apa-apa dan meminta saya bersiap bertemu dokter di
ruang praktiknya. Saya kemudian berjalan keluar bertemu Sarah yang saat itu
masih ditemani supir saya, karena Hendra masih dalam perjalanan ke RS. Saat
Sarah bertanya bagaimana hasil pemeriksaannya, saya berseloroh sambil
tertawa kepada Sarah, “Wah jangan-jangan
adek sudah mau lahir hari ini Sar.”
Saya tidak menyangka bahwa beberapa menit setelah perkataan
itu saya akan masuk ke dalam neraka. Saat saya melangkah masuk ke ruang praktik
dokter saya yaitu Dokter Waluyo Turatmo SpOG, saya melihatnya sedang memeriksa
hasil CTG saya. Kemudian dia berkata, “Ini ada apa, hasilnya jelek. Detak
jantungnya hanya 100. ”
Dokter Waluyo lantas langsung menjalankan pemeriksaan Ultrasonografi
(USG). Pertama alat periksa diletakkan, terlihat posisi kepalanya. Kemudian
dalam hitungan detik dia mulai memindahkan alat periksa sambil memencet-mencet
tombol yang ada pada mesin USG.
Klik, terlihat bagian badan Emma dengan jantung yang sudah tidak
berkedip.
Klik, terlihat grafik
yang sudah berhenti, dimana dalam keadaan normal biasanya grafik jantung itu
bergerak dan berbunyi.
Semuanya musnah.
Hanya terdengar suara Dokter Waluyo yang mengatakan, “Ini
jantungnya sudah tidak ada.”
Saya langsung berteriak histeris dan menangis kencang sekali.
Saya ingat betul menarik bagian bawah kemeja Dokter Waluyo sambil berteriak,
dokter tolong, dokter tolong anak saya. Saya menangis, meraung, sambil
berteriak memanggil Sarah yang juga berada di ruangan itu.
Dalam kondisi tersebut saya mendengar Dokter Waluyo
mengatakan bahwa dia melihat ada sedikit gerakan udara di bagian plasenta yang
mungkin dapat menjadi indikasi masih adanya kehidupan meski harapannya tipis.
Dia mengatakan apapun yang terjadi harus dilakukan operasi caesar malam itu
juga.
Bak adegan dalam sinetron, saya langsung digiring keluar
ruang praktik oleh para suster menggunakan kursi roda untuk melakukan persiapan
operasi. Saat keluar ruangan, Hendra sudah menunggu di luar dan bertanya ada
apa. Saya hanya berkata sambil menangis histeris, “Detak jantungnya sudah
enggak ada, Hen.”
Di ruang persiapan operasi saya sudah seperti zombie. Saya
tau saat baju saya diganti, saat para suster menanyai saya ini itu, meminta
tanda tangan, melakukan suntik tes alergi, tapi pikiran dan pandangan saya
mengawang-ngawang. Saya merasa ini tidak nyata dan tidak percaya hal ini bisa
terjadi kepada saya.
Saya ingat para suster mengingatkan saya untuk tidak bengong
dan berdoa. Saya ingat saya terus merapal doa Bapa Kami dan Salam Maria. Saya
ingat saya mencari mama saya.
1,5 jam hingga akhirnya saya memasuki ruang operasi. Semua
karena proses administrasi rumah sakit yang panjang serta menunggu datangnya
dokter anestesi. Saya melihat jam di ruang operasi yang menunjukkan pukul 10
malam saat operasi itu akan dimulai. Itu adalah waktu yang sama dengan waktu kelahiran
Sarah.
Saya masih ingat semuanya. Saya ingat saat Dokter Waluyo
seperti kesulitan menarik Emma keluar dari perut saya, sehingga dokter anestesi
harus membantu mendorongnya dari bagian atas perut saya. Saya ingat saat dokter
berhasil mengeluarkan Emma dan saya bertanya apakah bayi saya sudah keluar.
Dokter menjawab sudah tetapi belum menangis.
Setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi. Ternyata dokter
menidurkan saya hingga saya akhirnya terbangun kembali di ruang operasi jam 12
malam. Di ruang operasi itu hanya ada dua perawat yang tengah membersihkan
badan saya, dan dokter anestesi di belakang saya. Saya langsung bertanya, “Anak
saya bagaimana suster?”
Salah seorang suster itu, suster pria, menjawab, “Nanti
dengan dokternya ya bu, tadi ibu mau diberitahu tapi sedang tidur.”
Saya merasa mati rasa detik itu. Hati kecil saya merasa
sudah tau, bahwa Emma sudah pergi. Tapi saya tidak mau mengakuinya dulu. Tolong
jangan, tolong jangan, kata saya dalam hati.
Saya kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan, tidak jauh
dari ruang operasi tersebut. Saya ingat saya bertanya lagi kepada suster
perempuan yang ada disitu. “Anak saya bagaimana suster?”
Suster tersebut mendekati saya dan memandang saya lekat.
“Nanti dengan suami ibu ya yang menjelaskan.”
Entah kenapa saya lalu merasa lelah sekali. Saya terus
mendapat jawaban yang tidak jelas dan mengambang. Saya pun memutuskan menutup
mata sampai akhirnya Hendra datang dan mencium pipi saya,kening, mata.
“Bagaimana Emma?” tanya
saya. Dia hanya memandangi saya dan kemudian menggeleng. Emma sudah pergi.
Selanjutnya hanya terdengar suara tangis yang memilukan.
Sebuah tangis yang menggambarkan bunyi neraka yang terdalam. Neraka yang harus
dialami oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Seorang anak yang bahkan
belum pernah ia sentuh.
Saya tidak terima. Saya ingin mati malam itu. Suster yang
berjaga terus mengingatkan saya karena detak jantung dan tekanan darah saya
yang meningkat drastis saat saya tengah histeris. Hendra terus memeluk dan
menguatkan. Saya terus menangis dan meraung.
Ini apa sebenarnya? Apakah saya sedang bermimpi? Tolong
saya. Tolong keluarkan saya dari mimpi buruk ini. Tapi bak cerita sekuel, mimpi
buruk itu terus berlanjut dan tidak mau berhenti.
Setelah agak tenang saya bertanya kepada Hendra, “Emma
seperti apa?” Dia bilang dia akan memperlihatkan fotonya asal saya janji tidak
menangis. Janji yang tentu tidak saya tepati.
Saat melihat fotonya satu per satu, perasaan saya sungguh
campur aduk. Saya tidak menyangka bayi yang meninggal di kandungan rupanya bisa
sebegitu bersih dan secantik ini. Saya memandangi wajahnya dalam foto yang
sangat mirip kakak dan papanya. Ternyata meski berbeda umur hampir 8 tahun
dengan kakaknya, rupa keduanya bisa tetap sangat mirip.
Saya kemudian meminta kepada Hendra untuk bertemu dengan
Emma. Tapi Hendra menolak dengan alasan takut saya trauma dan juga kondisi
kesehatan saya yang kurang baik. Saya pun sebenarnya agak takut, karena tidak
tau akan bereaksi seperti apa.
Tapi saya tetap memaksa untuk bertemu.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah 2 pagi ketika saya
akhirnya melihat Hendra memasuki ruangan bersama seorang suster yang menggiring
tempat tidur bayi. Suster itu lalu menaruh tempat tidur bayi tersebut di
sebelah tempat tidur saya, membuka kain lampin putih yang membungkus Emma, kemudian
pelan-pelan mengangkat dan memberikannya ke pelukan saya.
Ada rekaman video yang menunjukkan betapa sedetik wajah saya
sumringah saat suster tersebut menyerahkan Emma ke pelukan saya, layaknya wajah
seorang ibu yang akan menggendong anaknya pertama kali. Hanya sedetik, yang
kemudian digantikan oleh tangis dan sedih yang tak tertahankan. Perasaan saya
sangat sedih dan hancur sekali.
Tangan kanan saya memeluk tubuhnya yang kecil dan ringkih.
Wajah kami berdua begitu dekat dan lekat. Dengan berlinangan air mata saya pandangi
wajahnya, matanya yang tertutup, hidung dan bibirnya yang mungil hingga alisnya yang belum
tumbuh. Saya ciumi terus pipi kirinya yang menempel dengan wajah saya. Jari tangan
kiri saya yang gemetaran menelusuri wajahnya, kulitnya, rambutnya, tubuhnya sambil terus mengucap
betapa cantiknya dia. Betul-betul cantik dan sempurna.
Itulah saat pertama dan terakhir saya bertemu dan menyentuh
Emma. Sebuah momentum yang tidak akan terulang, dan akan terus tersimpan di
dalam relung hati ini hingga akhir hayat. Sebuah saat, yang bila teringat selalu
membuat hati dan mata ini hangat.
Saya tidak akan pernah tau kemana dia pergi atau kepada siapa.
Yang saya tau pasti, setengah bagian diri saya hilang malam itu, dan setengah
lainnya hancur berantakan.
*Emma Karina Soe lahir meninggal (stillbirth) di RS Puri
Cinere lewat prosedur operasi caesar pada 25 Januari 2019 di usia kehamilan 36
minggu, dengan berat 2,28 kilogram dan panjang 48 cm. Dokter yang menangani selama
proses kehamilan dan kelahiran adalah Dokter Waluyo Turatmo SpOG.
No comments:
Post a Comment