Home

Tuesday, August 20, 2019

Pergeseran


Dua bulan sudah saya tidak menulis blog ini. Tidak ada apa-apa. Saya hanya sedang sibuk. Dan waktu nampaknya tidak sudi menunggu. Ia memilih untuk berjalan cepat sekali sampai saya kewalahan.

Sibuk apa ya?

Yang paling menyita waktu adalah saat kami sekeluarga akhirnya pindah kembali ke rumah yang sudah selesai direnovasi. Tanggal 6 Juli tepatnya, semua barang kami sudah dipindah, dan sisa waktu seterusnya diisi dengan mengeluarkan semua barang dari kardus dan beberes.

Proses pindahan ini tidak mudah bagi saya. Sekitar dua hari sebelum pindahan, saya merasa down dan depresi sekali. Seharian itu saya merasa marah, sedih sekali, sampai pingin mati. Entah apa yang terjadi pada diri saya hari itu. Saya seperti nervous karena akhirnya akan menempati rumah ini kembali.

Kenangan akan rumah ini saat saya menunggui proses pembangunannya sambil mengandung Emma terus berkelebat. Dalam hati saya merasa tidak akan sanggup tinggal di rumah ini. Setiap ruangan memiliki kenangan bersama Emma. Terlalu banyak memori disini. Saya pasti tidak sanggup menghadapinya.

Namun nyatanya saya masih bertahan hingga hari ini.

Memang, setiap hari sejak tanggal 6 Juli, selalu ada waktu dimana ada air mata yang menetes di pipi ini. Selalu ada rasa sakit di hati ini, yang kadang sampai ke kepala. Tapi saya masih bertahan. Memori di rumah itu saat saya bersama Emma di kandungan masih selalu ada, tapi sedikit-sedikit setiap hari ada memori baru yang masuk.

Memori saat saya menemani Sarah tidur di kamarnya yang nyaman. Memori saat saya mandi di kamar mandi yang bersih. Memori saat melihat dapur saya yang cantik. Hingga memori saat saya makan di meja makan atau sekedar ngobrol dengan suami saya di teras. Semua itu menjadi memori baru rumah ini buat saya. 

Memori baru itu memang tidak serta merta menggantikan memori sedih yang saya punya. Tapi saya merasakan sebuah pergeseran. Bahwa perasaan saya seperti dipaksa untuk tidak berpegang ke belakang. Karena sekarang ada yang baru, besok juga.

Tubuh dan pikiran saya seperti tidak kuasa menolak apapun yang masuk saat ini. Waktu dan hidup seperti terus menggeret saya ke depan. Saya seperti tidak mengendalikan apa-apa. Hidup saya ini ibarat berjalan auto pilot, ikut arus, pasrah berjalan entah kemana. Rasanya aneh, tapi nyata.

Mungkin ini bagian perjalanan yang harus saya lalui. Untuk tersadarkan dan belajar untuk tidak menginginkan atau mengontrol apa-apa. Entahlah. Saat ini mari jalani saja.


No comments:

Post a Comment