Dua bulan sudah saya tidak menulis blog ini. Tidak ada
apa-apa. Saya hanya sedang sibuk. Dan waktu nampaknya tidak sudi menunggu. Ia memilih
untuk berjalan cepat sekali sampai saya kewalahan.
Sibuk apa ya?
Yang paling menyita waktu adalah saat kami sekeluarga
akhirnya pindah kembali ke rumah yang sudah selesai direnovasi. Tanggal 6 Juli
tepatnya, semua barang kami sudah dipindah, dan sisa waktu seterusnya diisi
dengan mengeluarkan semua barang dari kardus dan beberes.
Proses pindahan ini tidak mudah bagi saya. Sekitar dua hari
sebelum pindahan, saya merasa down
dan depresi sekali. Seharian itu saya merasa marah, sedih sekali, sampai pingin
mati. Entah apa yang terjadi pada diri saya hari itu. Saya seperti nervous
karena akhirnya akan menempati rumah ini kembali.
Kenangan akan rumah ini saat saya menunggui proses
pembangunannya sambil mengandung Emma terus berkelebat. Dalam hati saya merasa
tidak akan sanggup tinggal di rumah ini. Setiap ruangan memiliki kenangan
bersama Emma. Terlalu banyak memori disini. Saya pasti tidak sanggup
menghadapinya.
Namun nyatanya saya masih bertahan hingga hari ini.
Memang, setiap hari sejak tanggal 6 Juli, selalu ada waktu
dimana ada air mata yang menetes di pipi ini. Selalu ada rasa sakit di hati
ini, yang kadang sampai ke kepala. Tapi saya masih bertahan. Memori di rumah
itu saat saya bersama Emma di kandungan masih selalu ada, tapi sedikit-sedikit
setiap hari ada memori baru yang masuk.
Memori saat saya menemani Sarah tidur di kamarnya yang
nyaman. Memori saat saya mandi di kamar mandi yang bersih. Memori saat melihat
dapur saya yang cantik. Hingga memori saat saya makan di meja makan atau
sekedar ngobrol dengan suami saya di teras. Semua itu menjadi memori baru rumah
ini buat saya.
Memori baru itu memang tidak serta merta
menggantikan memori sedih yang saya punya. Tapi saya merasakan sebuah
pergeseran. Bahwa perasaan saya seperti dipaksa untuk tidak berpegang ke
belakang. Karena sekarang ada yang baru, besok juga.
Tubuh dan pikiran saya seperti tidak kuasa menolak apapun
yang masuk saat ini. Waktu dan hidup seperti terus menggeret saya ke depan. Saya
seperti tidak mengendalikan apa-apa. Hidup saya ini ibarat berjalan auto pilot,
ikut arus, pasrah berjalan entah kemana. Rasanya aneh, tapi nyata.
Mungkin ini bagian perjalanan yang harus saya lalui. Untuk
tersadarkan dan belajar untuk tidak menginginkan atau mengontrol apa-apa.
Entahlah. Saat ini mari jalani saja.
No comments:
Post a Comment