Home

Friday, March 29, 2019

Kesedihan dan Kebahagiaan


Siapakah yang akan pernah mengira betapa kebahagiaan begitu rapuh
dan keajaiban cinta hanyalah untuk sementara?
(Seno Gumira Ajidarma)*


Enam hari sebelum kepergian Emma, saya mengeposkan foto ini di instagram saya:




Di bawah foto saya menuliskan: There are no perfect moms, just real ones. Di bawahnya saya sematkan tagar #36weeks#4weekstogo.

Dua hari setelah kepergiannya, foto ini yang saya poskan di instagram saya:




Di bawah foto saya menuliskan: Sarah dan Emma. Penjagaku di dunia dan di surga. Tagar yang saya pakai adalah #daughters#stillbirth.

Dalam foto pertama saya tengah dalam kondisi paling bahagia. Saya merasa sehat dan ceria karena tengah menunggu minggu-minggu terakhir kelahiran Emma. Ini adalah hari-hari dimana saya sibuk mempersiapkan kehadirannya dengan sibuk berbelanja kebutuhan bayi hingga menyiapkan tempat tidurnya.

Namun kontras dengan kondisi yang ada pada waktu itu, saya malah memilih mengedit warna foto itu dengan nuansa kelam hitam putih yang identik dengan kesedihan atau kesenduan. Bila diingat lagi saya sungguh tidak tau apa yang mendasarinya. Saya hanya merasa suka saja.

Sementara dalam foto kedua, saya tengah berada dalam kondisi terhancur dalam hidup saya. Namun nyatanya foto itu begitu terang, cerah dan penuh kebahagiaan. Sarah pun sedang tertawa dalam foto itu.

Melihat kedua foto yang kontradiktif itu saya merasakan tipisnya batas antara kesedihan dan kebahagiaan. Siapa yang pernah mengira bahwa 8 hari setelah saya memposkan foto dalam kondisi hamil besar dengan tagar #4weekstogo, saya kemudian akan memposkan foto makam bayi saya?

Hal ini membuat saya percaya dengan kalimat di awal tulisan ini, bahwa kebahagiaan adalah hal yang rapuh. Betapa kebahagiaan bisa hancur begitu saja dan digantikan oleh kesedihan. Betapa dalam setiap momen kebahagiaan ada kesedihan yang mengintai.

Saat pertama kali saya tau bahwa saya mengandung Emma, di usia kehamilan 7 minggu, saya sesungguhnya sudah diintai oleh kesedihan dan ketakutan. Karena tidak tau bahwa saya sudah hamil, di minggu-minggu itu saya tidak makan dan minum dengan benar, kecapekan dan banyak begadang, bahkan saya sempat naik roller coaster di Dunia Fantasi.

Saya sedih membayangkan bahwa bisa jadi anak ini tidak baik pembentukan tubuhnya. Saya sedih karena saya tidak mempersiapkan kehadirannya dengan baik. Saya sedih dan takut akan terjadi apa-apa dengannya. Namun nyatanya dia bertahan, anak ini sangat kuat.

Perkembangan tubuhnya, detak jantungnya, sangat baik dan sehat setiap bulannya. Kondisi badan dan kesehatan saya pun tidak ada masalah. Setiap bulan saya merasakan kebahagiaan yang bertambah dan terus membuncah. Saya pongah! Saya lupa akan kesedihan yang mengintai.

Hingga hari itu datang dan mengingatkan segalanya.

26 Januari 2019. Hari dimana kami harus memakamkannya.

Dimanakah rasa keadilan ketika orang tua harus menguburkan anaknya? Dimanakah rasa kepantasan ketika seorang kakak harus menangisi jasad adiknya? Mengapa dunia bisa begitu kejam?

Itulah puncak kesedihan hidup yang saya dan juga keluarga rasakan. Betapa kesedihan telah sabar mengintai dan menunggu dengan sabar selama 9 bulan dan berhasil menuai hasilnya di hari itu. Sebuah kesedihan dan kehancuran total yang ia jatuhkan kepada seorang, dua orang, tiga orang, sekian orang manusia. Sebuah kesedihan berlapis yang tiada ujungnya.

Hari itu hampir seluruh keluarga kami hadir. Saya yang tidak dapat hadir karena masih dirawat di rumah sakit, secara khusus meminta keluarga untuk datang dengan baju putih, sebuah warna yang menurut saya ‘sangat Emma’.

Saya ingat saat saya berbelanja baju untuk Emma beberapa minggu sebelumnya, semua berwarna putih. Bahkan sprei dan selimutnya yang sudah saya jahitkan untuknya, juga bernuansa putih. Sama putihnya dengan warna peti yang menaungi jasadnya. Sekali lagi, saya tidak tau mengapa saya memilih warna putih. Saya hanya merasa suka saja.

Mereka yang datang semua bercerita bahwa seluruh proses pemakaman Emma berlangsung sangat lancar dan baik, bahkan terkesan seperti sudah diatur dan dilancarkan. Emma yang baru keluar dari rumah sakit sekitar pukul 2 dini hari, langsung dapat disemayamkan di rumah kami dengan bantuan saudara, kerabat, tetangga dan teman-teman gereja papa dan mama saya.

Paginya sekitar pukul 8 dilangsungkan ibadat sabda yang dihadiri oleh banyak sekali orang yang mungkin sebagian diantaranya tidak mengenal saya sekeluarga. Semua datang atas dasar cinta dan murni ingin mendoakannya. Sahabat dan saudara saya yang hadir mengatakan betapa cantiknya Emma, dan betapa mereka yang melihat wajahnya dapat merasakan kesedihan, ketenangan sekaligus kebahagiaan yang dalam.

Sekitar pukul 11 siang Emma akhirnya dimakamkan di pemakaman Kali Mulya I, Depok. Ia mendapatkan tempat peristirahatan terakhir di area khusus pemakaman bayi-bayi, yang lokasinya sungguh strategis dan dekat dengan pintu masuk. Satu tempat terakhir yang seperti memang sudah disiapkan untuknya. Sebuah tempat dan lokasi yang seperti surga di dunia, kata Hendra.

Bagaimana dengan saya hari itu?

Saya tidak dapat tidur sama sekali sejak semalam. Pagi itu sejak Hendra meninggalkan saya untuk menghadiri ibadat sabda dan pemakaman, hal pertama yang saya lakukan adalah melamun, memandangi tembok dan plafon kosong yang ada di kamar rumah sakit. Pikiran dan hati saya blank, hanya air mata ini yang tidak dapat berhenti mengalir. Saya hanya ingin mati saat itu.

Beberapa menit saya sendirian hingga kemudian satu per satu sahabat saya datang. Ada yang datang untuk diam dan ikut menangis. Ada yang terus berbicara dan menguatkan. Ada yang terus membelai saya, menyiapkan tissue untuk mengelap air mata saya, hingga mendengarkan serpihan kata yang keluar dari mulut saya. Saya bahkan tidak tau bagaimana mereka bisa tau mengenai kabar perginya Emma semalam. Namun mereka semua hadir dengan porsinya masing-masing.

Seharian itu saya praktis sama sekali tidak pernah sendirian. Kamar rumah sakit itu penuh oleh para sahabat saya yang menemani sampai malam, hingga keluarga serta saudara-saudara yang terus berkunjung untuk mengucapkan duka cita. Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak saya temui sejak lama sekali. Namun mereka hadir lama hari itu.

Banyak dari mereka menyuruh saya untuk tidur dan beristirahat. Tapi saya tidak bisa. Padahal suster sudah menyuntikkan obat tidur banyak sekali ke infus saya. Nyatanya badan saya ngotot untuk bangun, untuk menikmati semua kesakitan dan kesedihan hari itu. Sekaligus untuk menikmati kebahagiaan dikelilingi oleh orang yang saya sayang dan menyayangi saya.

Hari itu saya merasakan ironi. Sebuah ironi bahwa kesedihan dan kebahagiaan dapat berpelukan dalam satu waktu. Sesungguhnya, hal itulah yang terjadi hari itu.


Teruntuk mereka yang menemani saya di hari itu dan setelahnya, terimakasih.

*Kalimat ini diambil dari cerita pendek Budak Cinta dalam kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Transit. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.

No comments:

Post a Comment