Home

Monday, April 29, 2019

Pulang


Pekan lalu saat saya mengunjungi makam Emma, ada sebuah makam baru di sebelahnya. Makam seorang bayi berumur 7 bulan bernama Letisha, yang baru dimakamkan 5 hari sebelum kedatangan kami.

Entah mengapa air mata saya langsung menetes dan hati ini terasa sakit seperti dipelintir saat melihat makam Letisha. Saya merasa ikut sedih padahal saya tidak mengenalnya. Saya merasa ikut mengalami kesakitan orang tua Letisha.

Saya jadi teringat lagi pengalaman saya saat pertama kali mengunjungi makam Emma, tepatnya tanggal 16 Februari 2019 atau hampir tiga minggu sejak kepergiannya. Saya ingat hati saya kalut sepanjang perjalanan, dan mata ini terus mengeluarkan air mata. Dalam hati saya terus berpikir nanti akan bereaksi seperti apa.

Kami datang bertiga waktu itu. Saya, Hendra dan Sarah. Hendra membeli bunga tabur dan air mawar yang dijual oleh ibu penjaga disitu karena kami tidak sempat membeli bunga di toko bunga. Hujan turun rintik-rintik saat kami tiba.

Saya berusaha kuat saat turun dari mobil menuju ke makam Emma yang letaknya sangat dekat dari lokasi parkiran. Dalam hati saya bilang, jangan nangis, jangan nangis. Tapi begitu tiba persis di depan makamnya, ternyata saya tidak kuat. Saya menangis seru sampai sesungukan.

Tiba-tiba hujan turun menjadi lebat dan deras sekali, disertai angin kencang yang membuat kami basah kuyub.

Akhirnya kami memutuskan lari kembali ke dalam mobil untuk berteduh sampai hujan reda. Ada sekitar 15 menit kami menunggu hingga hujan mereda, dan dalam waktu tersebut, saya ingat saya berjanji untuk tenang dan tidak menangis. Saya ingat setelah saya benar-benar bisa berhenti menangis, kemudian hujan mereda, rintik-rintik, berhenti, lalu langit berangsur cerah dan putih kembali. Apakah itu sebuah kebetulan? Entahlah.

Hari itu agenda saya hanya memandangi makam Emma. Saya tidak bisa melakukan seperti yang biasa dilakukan orang kalau mengunjungi makam seperti mengajak ngobrol atau mendoakan. Saya hanya mematung, memandangi makam Emma dengan tidak percaya. Semua masih terasa seperti mimpi.

Namun, ketika kami pulang, entah mengapa saya merasakan sebuah kelegaan. Teman-teman saya menyebutnya sebagai sebuah closure, sebuah penutupan. Tapi bagaimana itu bisa disebut sebagai sebuah closure bila itu malah menjadi awal sebuah ritual?

Sejak hari itu kami rutin mengunjungi makam Emma setiap dua minggu sekali, selalu di hari Minggu. Seringnya kami datang berlima bersama orang tua saya. Bila ada kami akan membawakan mawar putih, atau bunga lain, namun pastinya berwarna putih. Setiap orang menancapkan satu bunga.

Di setiap kunjungan saya masih terus menangis, masih suka lama menatap makamnya. Tapi di setiap kunjungan itu selalu ada progressnya. Awalnya saya bisa menegurnya, kemudian saya mulai bisa bercerita kepadanya, lama-lama saya mulai mendoakannya dengan cara saya sendiri. Terakhir bahkan saya bisa menepuk-nepuk bagian bawah makamnya seperti sedang menidurkannya di boks bayi.

Tanpa saya sadari, mengunjungi makam Emma saat ini menjadi hal yang saya tuju setiap bulan. Lewat seminggu setelah saya berkunjung, saya akan tidak sabar menunggu minggu depan untuk kembali mengunjungi makamnya. Setiap hari Minggu pagi pasti saya sudah gelisah dan tidak sabar untuk berangkat ke makam. Mengunjungi Emma sekarang seperti menjadi sebuah kebutuhan.

Rasanya saya ibaratkan seperti pulang ke rumah.


No comments:

Post a Comment