“I wonder why progress
looks so much like destruction. –John Steinbeck”
82 hari | 1.968 jam | 118.080 menit | 7.084.800 detik
Apa kabar kehidupan?
Setiap hari yang saya lalui setelah kepergian Emma ibarat
ujian. Apakah saya akan bertahan hidup hari ini? Perkara dan kesintingan apa
lagi yang akan saya dapatkan hari ini? Setiap hari ibarat pertaruhan: hidup,
menjadi gila, atau mati.
Kendati tersuruk-suruk, nyatanya saya masih hidup hingga
saya menuliskan ini. Sampai saat ini, setiap hari selalu ada momen dimana saya
menitikkan air mata, meratap hingga badan kejang sampai berteriak histeris bak
orang kesetanan saat emosi. Tapi saya sadar betul bahwa saya belum menjadi gila
atau mati. Belum.
Sesungguhnya saya juga tidak memilih untuk hidup. Saya hanya
memilih untuk menjalani aktivitas hidup setiap hari: bangun, makan, mandi, berkegiatan,
tidur, kemudian bangun kembali. Setiap saya bangun pagi hari saya selalu
langsung merenung menatap keluar jendela sambil berpikir, oh saya masih bangun
hari ini. Masih.
Bukannya saya tidak tau bahwa masih banyak alasan saya untuk
bangun. Masih ada anak pertama saya Sarah, suami saya Hendra, orang tua,
keluarga dan sahabat yang mengelilingi saya. Saya masih memiliki rumah untuk
tempat tinggal juga sumber penghidupan dari bisnis yang saya jalani. Banyak.
Tapi di sisi lain, saya merasa tengah menjalani siksaan
hidup yang sangat berat. Mengapa saya masih hidup? Mengapa saya harus dibiarkan
hidup dan tersiksa mengingat semuanya? Bayangkanlah rasanya ketika semua
tempat, semua kejadian, semua lagu, semua bau, bisa mengingatkan pada sebuah
kenangan yang menyakitkan. Sebuah kenangan yang saya harap tidak pernah ada.
Menuju tiga bulan kepergian Emma, sudah banyak hal terjadi
pada saya. Berkali-kali saya sakit dan demam tinggi hingga menggigil
kedinginan, yang setelah diperiksa ternyata karena radang tenggorokan. Kali
lain terjadi karena air susu saya keluar dan mengakibatkan payudara bengkak.
Kemudian saya tidak lagi selera makan. Berat badan saya
langsung drop 12 kilogram. Nasi dan karbohidrat lain ibarat musuh. Ketika saya
sudah bisa beraktivitas kembali, badan saya yang kurang makan saya paksa
berjalan kaki 4 kilometer dari rumah orang tua saya ke rumah saya yang sedang
direnovasi, hampir setiap hari. Akhirnya saya ambruk lagi.
Bekas luka sayatan operasi caesar saya ada yang terbuka dan
terus mengeluarkan darah. Proses pengobatan ini sangat menyiksa saya secara
lahir batin karena luka itu mengganggu dan saya harus bolak-balik ke rumah
sakit tempat saya melahirkan. Hampir 2 bulan hingga luka bekas operasi itu
akhirnya sembuh dan menutup.
Pada masa-masa ini saya juga merasakan sakit hati yang
berat. Saya merasa dikecewakan, dikerjain, dikhianati, diberi harapan palsu, ditelantarkan
begitu saja. Saya juga terus menyalahkan diri saya atas apa yang terjadi, bahwa
badan sayalah yang telah membunuh anak saya. Bahwa saya merasa dianggap tidak
pantas menjadi ibu.
Awalnya sungguh tak mudah untuk memulai bangun. Semua
betul-betul dimulai dari langkah kecil. Pasca operasi dan proses pemulihan
fisik yang menyakitkan, pelan-pelan saya mencoba melakukan aktivitas harian
sendiri. Berjalan ke kamar kecil sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, naik turun
tangga sendiri.
Perlahan ketika kondisi fisik terasa sudah pulih, saya mulai
mencoba keluar rumah. Tempat pertama yang saya datangi adalah Pondok Indah Mal
(PIM), tempat yang saya pikir tidak akan saya bisa datangi lagi karena PIM
adalah tempat terakhir yang saya datangi di hari kepergian Emma. Saya menangis
ketika berada disana, melewati tempat-tempat yang saya datangi hari itu.
Saya lalu beberapa kali kembali ke PIM. Bukan, saya bukan
pecandu kesakitan. Saya hanya merasa, kemanapun saya pergi, semua tempat akan
mengingatkan saya kepada Emma, kepada rasa dan kenangan saat saya bersamanya.
Jadi ke PIM atau tidak ke PIM rasanya akan sama saja.
Demi mengubah apa yang saya rasakan, saya bahkan mencoba mengubah kebiasaan-kebiasaan harian
saya. Dari mulai mengubah apa yang saya konsumsi, mengganti rangkaian pembersih
muka hingga mengubah lagu-lagu yang saya dengarkan. Namun semua tetap terasa sama saja. Semua hal tetap
mengingatkan saya padanya. Semua hal tetap terasa menyakitkan.
Rasa sakit itu bahkan tega hadir di momen yang membahagiakan.
Seperti saat saya tertawa lepas bersama keluarga dan sahabat-sahabat saya,
waktu saya melihat banyaknya pesanan yang masuk pada bisnis saya, lega melihat
proses renovasi rumah yang sudah akan selesai hingga saat Sarah berulang tahun
ke 8. Pada setiap momen itu, tetap ada sekian detik dimana kesakitan itu masuk.
Betapa hebatnya sebuah rasa yang menyakitkan. Semakin ingin
kita hiraukan dan lupakan, ia malah semakin menetap.

No comments:
Post a Comment