Home

Tuesday, April 16, 2019

Pertaruhan


“I wonder why progress looks so much like destruction. –John Steinbeck”

82 hari | 1.968 jam | 118.080 menit | 7.084.800 detik

Apa kabar kehidupan?

Setiap hari yang saya lalui setelah kepergian Emma ibarat ujian. Apakah saya akan bertahan hidup hari ini? Perkara dan kesintingan apa lagi yang akan saya dapatkan hari ini? Setiap hari ibarat pertaruhan: hidup, menjadi gila, atau mati.

Kendati tersuruk-suruk, nyatanya saya masih hidup hingga saya menuliskan ini. Sampai saat ini, setiap hari selalu ada momen dimana saya menitikkan air mata, meratap hingga badan kejang sampai berteriak histeris bak orang kesetanan saat emosi. Tapi saya sadar betul bahwa saya belum menjadi gila atau mati. Belum.

Sesungguhnya saya juga tidak memilih untuk hidup. Saya hanya memilih untuk menjalani aktivitas hidup setiap hari: bangun, makan, mandi, berkegiatan, tidur, kemudian bangun kembali. Setiap saya bangun pagi hari saya selalu langsung merenung menatap keluar jendela sambil berpikir, oh saya masih bangun hari ini. Masih.

Bukannya saya tidak tau bahwa masih banyak alasan saya untuk bangun. Masih ada anak pertama saya Sarah, suami saya Hendra, orang tua, keluarga dan sahabat yang mengelilingi saya. Saya masih memiliki rumah untuk tempat tinggal juga sumber penghidupan dari bisnis yang saya jalani. Banyak.

Tapi di sisi lain, saya merasa tengah menjalani siksaan hidup yang sangat berat. Mengapa saya masih hidup? Mengapa saya harus dibiarkan hidup dan tersiksa mengingat semuanya? Bayangkanlah rasanya ketika semua tempat, semua kejadian, semua lagu, semua bau, bisa mengingatkan pada sebuah kenangan yang menyakitkan. Sebuah kenangan yang saya harap tidak pernah ada.

Menuju tiga bulan kepergian Emma, sudah banyak hal terjadi pada saya. Berkali-kali saya sakit dan demam tinggi hingga menggigil kedinginan, yang setelah diperiksa ternyata karena radang tenggorokan. Kali lain terjadi karena air susu saya keluar dan mengakibatkan payudara bengkak.

Kemudian saya tidak lagi selera makan. Berat badan saya langsung drop 12 kilogram. Nasi dan karbohidrat lain ibarat musuh. Ketika saya sudah bisa beraktivitas kembali, badan saya yang kurang makan saya paksa berjalan kaki 4 kilometer dari rumah orang tua saya ke rumah saya yang sedang direnovasi, hampir setiap hari. Akhirnya saya ambruk lagi. 

Bekas luka sayatan operasi caesar saya ada yang terbuka dan terus mengeluarkan darah. Proses pengobatan ini sangat menyiksa saya secara lahir batin karena luka itu mengganggu dan saya harus bolak-balik ke rumah sakit tempat saya melahirkan. Hampir 2 bulan hingga luka bekas operasi itu akhirnya sembuh dan menutup.

Pada masa-masa ini saya juga merasakan sakit hati yang berat. Saya merasa dikecewakan, dikerjain, dikhianati, diberi harapan palsu, ditelantarkan begitu saja. Saya juga terus menyalahkan diri saya atas apa yang terjadi, bahwa badan sayalah yang telah membunuh anak saya. Bahwa saya merasa dianggap tidak pantas menjadi ibu.

Awalnya sungguh tak mudah untuk memulai bangun. Semua betul-betul dimulai dari langkah kecil. Pasca operasi dan proses pemulihan fisik yang menyakitkan, pelan-pelan saya mencoba melakukan aktivitas harian sendiri. Berjalan ke kamar kecil sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, naik turun tangga sendiri.

Perlahan ketika kondisi fisik terasa sudah pulih, saya mulai mencoba keluar rumah. Tempat pertama yang saya datangi adalah Pondok Indah Mal (PIM), tempat yang saya pikir tidak akan saya bisa datangi lagi karena PIM adalah tempat terakhir yang saya datangi di hari kepergian Emma. Saya menangis ketika berada disana, melewati tempat-tempat yang saya datangi hari itu.

Saya lalu beberapa kali kembali ke PIM. Bukan, saya bukan pecandu kesakitan. Saya hanya merasa, kemanapun saya pergi, semua tempat akan mengingatkan saya kepada Emma, kepada rasa dan kenangan saat saya bersamanya. Jadi ke PIM atau tidak ke PIM rasanya akan sama saja.    

Demi mengubah apa yang saya rasakan, saya bahkan mencoba mengubah kebiasaan-kebiasaan harian saya. Dari mulai mengubah apa yang saya konsumsi, mengganti rangkaian pembersih muka hingga mengubah lagu-lagu yang saya dengarkan. Namun semua tetap terasa sama saja. Semua hal tetap mengingatkan saya padanya. Semua hal tetap terasa menyakitkan.

Rasa sakit itu bahkan tega hadir di momen yang membahagiakan. Seperti saat saya tertawa lepas bersama keluarga dan sahabat-sahabat saya, waktu saya melihat banyaknya pesanan yang masuk pada bisnis saya, lega melihat proses renovasi rumah yang sudah akan selesai hingga saat Sarah berulang tahun ke 8. Pada setiap momen itu, tetap ada sekian detik dimana kesakitan itu masuk.

Betapa hebatnya sebuah rasa yang menyakitkan. Semakin ingin kita hiraukan dan lupakan, ia malah semakin menetap.

Saya tidak tau berapa lama hal ini akan berlangsung. Mungkin sebentar lagi, mungkin masih lama, atau mungkin saja selamanya. Namun yang pasti, hingga hari ini, setiap bangun tidur dan akan memulai hari, saya masih menghadapi sebuah pertaruhan. Mau menjadi apa hari ini?



No comments:

Post a Comment