Home

Wednesday, October 30, 2019

Neraka


“Guilt is such a useless emotion”
-Lucifer Morningstar-

Belakangan saya lagi suka mengikuti serial Lucifer di Netflix. Serial ini bercerita tentang Lucifer, yes si setan Lucifer yang sedang merasa boring tinggal di neraka dan memutuskan untuk hijrah ke bumi atau tepatnya di Los Angeles yang terkenal sebagai City of Angel atau kotanya para malaikat.

Alkisah, Lucifer yang pembangkang melakukan pemberontakan terhadap ayahnya yakni Tuhan, yang membuat ia kemudian dibuang ke neraka dan menjadi King of Hell atau Raja di Neraka. Untuk menunjukkan bahwa ia tidak mau diatur-atur oleh ayahnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari neraka dan menjalani kehidupan di bumi.

Absurd? Ya namanya juga film.

Terlepas dari kisahnya yang absurd dan seringkali receh, buat saya film ini cukup menginspirasi. Terutama dari sisi Lucifer mendefinisikan neraka yang ia pimpin. Dalam beberapa episode ia menggambarkan bahwa yang namanya siksaan neraka itu isinya bukan kita terbakar karena digoreng api neraka atau dicambuk sampai bagian tubuh lepas. Neraka yang sebenarnya adalah dimana kita tersiksa oleh perasaan bersalah (guilt) kita sendiri.

Rasa bersalah itu saking menyiksanya, terus kembali dan kembali. Hal yang memicu rasa bersalah itu seperti te-rewind otomatis dan membuat adegan yang sama itu berulang-ulang. Dan disitulah kita merasa diri kita berada dalam titik terendah, titik dimana kita ingin pergi dan keluar dari situ tapi tidak bisa, titik dimana kita seperti merasa berada di neraka.

Saya tau persis rasanya neraka itu.

Sudah 10 bulan, dan sampai hari ini saya masih terus me-rewind hari di tanggal 25 Januari 2019, dimana Emma berpulang. Saya selalu merasa bersalah karena tidak lebih peka, tidak istirahat, tidak lebih cepat ke dokter, dan lain-lain. Kenapa saya bisa tidak tau, tidak merasa? Memang, bisa jadi tidak ada keadaan yang akan berubah juga bila saya merasa lebih cepat. Tapi bisa saja berubah, kan? Itu rasa bersalah saya. Itu neraka saya.

Perasaan bersalah itu meski kerap saya usir, seperti tidak mau pergi. Ia seperti menarik saya terus menerus. Bahkan seorang Lucifer dalam salah satu episode, sempat terseret ke dalam siksa neraka perasaan bersalahnya sendiri dan nyaris tidak bisa keluar dari lingkaran itu bila tidak diselamatkan. Even the devil can’t save himself.

Guilt is such a useless emotion, kata Lucifer.  Meski demikian perasaan itu bisa berdampak sangat besar, sampai membangun siksa neraka dalam kehidupan seseorang.

Kadang saya berpikir, ini adalah neraka yang saya ciptakan sendiri, I create my own hell. Akankah suatu hari saya bisa menghancurkan ciptaan saya sendiri? Atau saya akan memilih untuk tinggal di dalamnya dan malah membangun taman? Karena kecenderungan kita untuk terus tinggal dalam zona yang kita terbiasa, zona nyaman. Meskipun zona itu adalah neraka.

No comments:

Post a Comment