“Guilt is such a useless emotion”
-Lucifer Morningstar-
Belakangan saya lagi suka mengikuti serial Lucifer di
Netflix. Serial ini bercerita tentang Lucifer, yes si setan Lucifer yang sedang
merasa boring tinggal di neraka dan memutuskan untuk hijrah ke bumi atau
tepatnya di Los Angeles yang terkenal sebagai City of Angel atau kotanya para
malaikat.
Alkisah, Lucifer yang pembangkang melakukan pemberontakan
terhadap ayahnya yakni Tuhan, yang membuat ia kemudian dibuang ke neraka dan
menjadi King of Hell atau Raja di Neraka. Untuk menunjukkan bahwa ia tidak mau
diatur-atur oleh ayahnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari neraka dan menjalani kehidupan
di bumi.
Absurd? Ya namanya juga film.
Terlepas dari kisahnya yang absurd dan seringkali receh,
buat saya film ini cukup menginspirasi. Terutama dari sisi Lucifer
mendefinisikan neraka yang ia pimpin. Dalam beberapa episode ia menggambarkan
bahwa yang namanya siksaan neraka itu isinya bukan kita terbakar karena digoreng
api neraka atau dicambuk sampai bagian tubuh lepas. Neraka yang sebenarnya adalah
dimana kita tersiksa oleh perasaan bersalah (guilt) kita sendiri.
Rasa bersalah itu saking menyiksanya, terus kembali dan
kembali. Hal yang memicu rasa bersalah itu seperti te-rewind otomatis dan membuat adegan yang sama itu berulang-ulang. Dan
disitulah kita merasa diri kita berada dalam titik terendah, titik dimana kita
ingin pergi dan keluar dari situ tapi tidak bisa, titik dimana kita seperti merasa berada di neraka.
Saya tau persis rasanya neraka itu.
Sudah 10 bulan, dan sampai hari ini saya masih terus me-rewind hari di tanggal 25 Januari 2019,
dimana Emma berpulang. Saya selalu merasa bersalah karena tidak lebih peka,
tidak istirahat, tidak lebih cepat ke dokter, dan lain-lain. Kenapa saya bisa
tidak tau, tidak merasa? Memang, bisa jadi tidak ada keadaan yang akan berubah
juga bila saya merasa lebih cepat. Tapi bisa saja berubah, kan? Itu rasa
bersalah saya. Itu neraka saya.
Perasaan bersalah itu meski kerap saya usir, seperti tidak
mau pergi. Ia seperti menarik saya terus menerus. Bahkan seorang Lucifer dalam
salah satu episode, sempat terseret ke dalam siksa neraka perasaan bersalahnya
sendiri dan nyaris tidak bisa keluar dari lingkaran itu bila tidak
diselamatkan. Even the devil can’t save
himself.
Guilt is such a
useless emotion, kata Lucifer. Meski
demikian perasaan itu bisa berdampak sangat besar, sampai membangun siksa
neraka dalam kehidupan seseorang.
Kadang saya berpikir, ini adalah neraka yang saya ciptakan
sendiri, I create my own hell.
Akankah suatu hari saya bisa menghancurkan ciptaan saya sendiri? Atau saya akan
memilih untuk tinggal di dalamnya dan malah membangun taman? Karena
kecenderungan kita untuk terus tinggal dalam zona yang kita terbiasa, zona
nyaman. Meskipun zona itu adalah neraka.
No comments:
Post a Comment