Saya punya kebiasaan baru setiap saya sedang merasa down.
Saya akan menarik nafas panjang, memasukkan rambut saya ke belakang daun
telinga saya, kemudian perlahan menempelkan telinga saya ke dada anak saya
Sarah. Sekedar untuk mendengar bunyi detak jantungnya.
Dulu saya sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut,
bahkan tidak pernah terlintas di pikiran saya. Mungkin buat saya, jantung yang
berdetak adalah hal yang biasa, tidak terpikirkan dan tidak perlu menjadi
perhatian saya.
Kepergian Emma mengajarkan, apa yang saya anggap biasa itu
bisa tercuri dari saya kapan saja.
Biasanya saya akan menempelkan telinga saya di dada Sarah
saat dia tidur. Saya dengarkan bunyi detak jantungnya sambil memejamkan mata.
Saya hapalkan bunyinya yang berulang hingga menggema di kepala saya, dug dug
dug dug dug, kuat dan konstan.
Bunyi itu yang saya dambakan untuk bisa saya dengar di hari
Emma pergi. Bunyi yang saya harapkan ada, walaupun sedikit. Dan sekarang saya
mendengarnya melalui anak saya yang lain. Anak yang dari dulu jantungnya sudah
berdetak, tanpa saya harus berpikir
untuk mendambakan atau mengharapkannya terlebih dahulu.
Setelah 8 tahun, saya baru tau bagaimana bunyi detak jantung
Sarah.
Bunyi itu yang menyelamatkan saya.
Bunyi itu yang mengajarkan saya untuk berpegang pada masa
kini, menghargai setiap momen dan yang ada saat ini.
Bunyi itu juga menjadi pengingat bagi saya untuk selalu
siap, bahwa bunyi itu bukan milik saya, bukan sesuatu yang bisa saya kontrol
dan bisa tercuri kapan saja. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendengarkannya.

No comments:
Post a Comment