Home

Monday, May 27, 2019

Bunyi




Saya punya kebiasaan baru setiap saya sedang merasa down. Saya akan menarik nafas panjang, memasukkan rambut saya ke belakang daun telinga saya, kemudian perlahan menempelkan telinga saya ke dada anak saya Sarah. Sekedar untuk mendengar bunyi detak jantungnya.

Dulu saya sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut, bahkan tidak pernah terlintas di pikiran saya. Mungkin buat saya, jantung yang berdetak adalah hal yang biasa, tidak terpikirkan dan tidak perlu menjadi perhatian saya.

Kepergian Emma mengajarkan, apa yang saya anggap biasa itu bisa tercuri dari saya kapan saja.

Biasanya saya akan menempelkan telinga saya di dada Sarah saat dia tidur. Saya dengarkan bunyi detak jantungnya sambil memejamkan mata. Saya hapalkan bunyinya yang berulang hingga menggema di kepala saya, dug dug dug dug dug, kuat dan konstan.

Bunyi itu yang saya dambakan untuk bisa saya dengar di hari Emma pergi. Bunyi yang saya harapkan ada, walaupun sedikit. Dan sekarang saya mendengarnya melalui anak saya yang lain. Anak yang dari dulu jantungnya sudah berdetak, tanpa saya harus berpikir untuk mendambakan atau mengharapkannya terlebih dahulu.

Setelah 8 tahun, saya baru tau bagaimana bunyi detak jantung Sarah.

Bunyi itu yang menyelamatkan saya.

Bunyi itu yang mengajarkan saya untuk berpegang pada masa kini, menghargai setiap momen dan yang ada saat ini.

Bunyi itu juga menjadi pengingat bagi saya untuk selalu siap, bahwa bunyi itu bukan milik saya, bukan sesuatu yang bisa saya kontrol dan bisa tercuri kapan saja. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendengarkannya.

No comments:

Post a Comment