Home

Friday, May 17, 2019

Sang Pengatur






“Bagi mereka yang mengalami kehilangan, pagi hari dimulai dengan rasa sakit.”
(Rain Chudori)

Belakangan cara pikir otak saya sering berkeliaran kemana-mana, kadang bahkan terlalu mengada-ngada. Seringnya pikiran yang datang itu langsung menyetrum hati saya, menyalurkan energi negatif dan sungguh menghabiskan tenaga.

Melihat ibu dengan anak kecil atau bayi dalam stroller, ibu hamil atau keluarga dengan dua anak, rasanya pikiran dan hati langsung sumpek. Pikiran langsung mengayal, ah itu seharusnya gue. Bahkan waktu pertama kali naik MRT Jakarta saya langsung mikir, sedih rasanya tidak bisa memperkenalkan ini ke Emma, saya tidak akan pernah melihat dia naik MRT selamanya.

Kalau dipikir-pikir itu rasanya aneh banget. Bagaimana saya bisa merasa sedih atas sebuah kejadian yang belum dan bahkan tidak mungkin terjadi? Memang kalau Emma hidup, apa benar saya akan membiarkan dia naik MRT ke sekolah sendirian di masa depannya? Kekuatan pikiran manusia itu sungguh aneh.

Teman baik saya yang juga seorang praktisi wellness, Ani Purwandini, bilang bahwa otak saya sebenarnya sedang terbajak oleh perasaan saya atas Emma. Perasaan ini seperti muter-muter di otak lapisan kedua yang bernama limbik. “Perasaan terbajak, enggak berdaya, enggak bisa melawan, itu ada di situ,” paparnya.

Otak limbik atau sang pengatur, yang terbentuk bersamaan dengan amygdale, otak pertama yang terbentuk ketika kita mulai menjadi janin, merekam semua perasaan kita. Ia berfungsi membantu mempertahankan keseimbangan hormonal, rasa haus dan lapar, dorongan seksual, pusat kesenangan dan metabolisme. Otak ini selalu melibatkan emosi yang dalam untuk melakukan sesuatu.

Kecenderungan manusia untuk mengendapkan perasaan, terutama perasaan yang tidak enak, lama-lama bisa membuat limbik menjadi penuh, sesak dan membentuk perlindungannya sendiri. Dalam kasus saya, peristiwa Emma ini menjadi semacam trigger atas segala hal yang sudah terjadi dalam hidup saya yang suka saya endapkan, saya acuhkan.

Program otak saya untuk mengendapkan hal yang tidak enak dalam hidup, langsung rubuh bersamaan dengan seluruh sistim pertahanan diri saya, saat kepergian Emma. Karena kali ini saya tidak bisa lari dan harus menghadapinya. Peristiwa ini seketika dan tidak dapat diganti, tidak bisa diendapkan, apalagi diacuhkan.

Hal itu membuat otak saya terbajak dengan pola pikir yang saya tanamkan sendiri. Saya terus sedih dan meratap sampai pingin mati. Kali lain saya suka berpikir what if, bagaimana jika? Jika Emma hidup saya pasti sekarang sedang menyusuinya. Jika Emma hidup saya pasti sedang mengajaknya jalan-jalan. Jika Emma hidup pasti Sarah akan lebih bahagia. Jika, jika, jika.

Itu semua ada di pikiran saya, di otak saya. Saya terus menciptakan cerita di pikiran saya, dengan pola pikir saya. Dan kadang itu tidak bisa saya hindari. Pikiran saya seperti melegitimasi itu.

Henry Manampiring dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras menulis, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup sebenarnya hampir selalu netral, tetapi kemudian menjadi positif atau negatif karena interpretasi dan makna yang kita berikan. Kondisi yang tidak menyenangkan atau musibah adalah fakta hidup, tetapi bukan itu yang membunuh kita, melainkan apa yang kita pikirkan tentangnya.

Ini sungguh sangat relevan dengan yang saya rasakan. Betapa saat Emma meninggal, pikiran saya langsung negatif. Saya langsung merasa saya adalah ibu dan manusia yang sedemikian buruk, sehingga semesta berubah pikiran untuk menjadikannya anak saya. Saya bahkan langsung berpikir mungkin saat Emma diambil ia langsung dipindahkan ke rahim ibu lain yang jauh lebih baik dari saya. Belum lagi semua perasaan bersalah yang terus menghujam, bahkan hingga saat ini.

Saya tau bahwa semua perasaan itu datang dari pikiran saya. Fakta sebenarnya adalah hanya anak saya meninggal. Itu saja. Tapi kemudian pikiran saya kemana-mana dan berusaha melegitimasi pikiran yang mengawang-ngawang itu.

Masih dalam buku Filosofi Teras, saya terkesan dengan pembahasan Henry Manampiring mengenai Menghadapi Kehilangan Anak yang ada di halaman 243-245. Ia mengutip Seneca, seorang filsuf dan politisi yang mengirim surat kepada ibunya Helvia, saat Seneca harus menjalani hukuman pembuangan di Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius:

“Karena dukacita yang dicoba ditutupi atau dialihkan perhatiannya akan terus kembali, dengan kekuatan yang lebih besar. Namun dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang selamanya.”

Itu berarti berani menghadapi dukacita itu dan tidak lari darinya. Dukacita dirasakan dan dihadapi, namun tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Ia harus ditaklukkan dengan nalar dan rasional. Caranya tentu dengan merubah dan mengendalikan pikiran, interpretasi dan persepsi kita.

Apakah saya akan bisa melakukan itu? Saya sendiri belum tau. Namun untuk sementara ini, sudah tau apa yang harus dilakukan saja sudah bagus.

*Terimakasih dan sayang sebesar-besarnya kepada Ani Purwandini yang perbincangan dengannya melalui whatsapp sangat membantu tulisan ini, dan juga hidup ini.

*Tulisan Henry Manampiring diambil dari buku Filosofi Teras. Filsafat Yunani – Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Penerbit Buku Kompas, 2019.

*Tulisan Rain Chudori diambil dari cerita pendek Dari Berlin, Dengan Cinta yang ada di kumpulan cerita pendek Biru. Penerbit KPG, 2018. 

No comments:

Post a Comment