“Bagi mereka yang mengalami kehilangan, pagi hari dimulai dengan rasa
sakit.”
(Rain Chudori)
Belakangan cara pikir otak saya sering berkeliaran kemana-mana, kadang
bahkan terlalu mengada-ngada. Seringnya pikiran yang datang itu langsung
menyetrum hati saya, menyalurkan energi negatif dan sungguh menghabiskan
tenaga.
Melihat ibu dengan anak kecil atau bayi dalam stroller, ibu
hamil atau keluarga dengan dua anak, rasanya pikiran dan hati langsung sumpek.
Pikiran langsung mengayal, ah itu seharusnya gue. Bahkan waktu pertama kali
naik MRT Jakarta saya langsung mikir, sedih rasanya tidak bisa memperkenalkan
ini ke Emma, saya tidak akan pernah melihat dia naik MRT selamanya.
Kalau dipikir-pikir itu rasanya aneh banget. Bagaimana saya
bisa merasa sedih atas sebuah kejadian yang belum dan bahkan tidak mungkin
terjadi? Memang kalau Emma hidup, apa benar saya akan membiarkan dia naik MRT
ke sekolah sendirian di masa depannya? Kekuatan pikiran manusia itu sungguh
aneh.
Teman baik saya yang juga seorang praktisi wellness, Ani
Purwandini, bilang bahwa otak saya sebenarnya sedang terbajak oleh perasaan
saya atas Emma. Perasaan ini seperti muter-muter di otak lapisan kedua yang
bernama limbik. “Perasaan terbajak, enggak berdaya, enggak bisa melawan, itu
ada di situ,” paparnya.
Otak limbik atau sang pengatur, yang terbentuk bersamaan
dengan amygdale, otak pertama yang terbentuk ketika kita mulai menjadi janin,
merekam semua perasaan kita. Ia berfungsi membantu mempertahankan keseimbangan
hormonal, rasa haus dan lapar, dorongan seksual, pusat kesenangan dan metabolisme.
Otak ini selalu melibatkan emosi yang dalam untuk melakukan sesuatu.
Kecenderungan manusia untuk mengendapkan perasaan, terutama
perasaan yang tidak enak, lama-lama bisa membuat limbik menjadi penuh, sesak
dan membentuk perlindungannya sendiri. Dalam kasus saya, peristiwa Emma ini
menjadi semacam trigger atas segala hal yang sudah terjadi dalam hidup saya yang
suka saya endapkan, saya acuhkan.
Program otak saya untuk mengendapkan hal yang tidak enak
dalam hidup, langsung rubuh bersamaan dengan seluruh sistim pertahanan diri
saya, saat kepergian Emma. Karena kali ini saya tidak bisa lari dan harus
menghadapinya. Peristiwa ini seketika dan tidak dapat diganti, tidak bisa
diendapkan, apalagi diacuhkan.
Hal itu membuat otak saya terbajak dengan pola pikir yang
saya tanamkan sendiri. Saya terus sedih dan meratap sampai pingin mati. Kali
lain saya suka berpikir what if, bagaimana jika? Jika Emma hidup saya pasti
sekarang sedang menyusuinya. Jika Emma hidup saya pasti sedang mengajaknya
jalan-jalan. Jika Emma hidup pasti Sarah akan lebih bahagia. Jika, jika, jika.
Itu semua ada di pikiran saya, di otak saya. Saya terus menciptakan
cerita di pikiran saya, dengan pola pikir saya. Dan kadang itu tidak bisa saya
hindari. Pikiran saya seperti melegitimasi itu.
Henry Manampiring dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras
menulis, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup sebenarnya hampir selalu
netral, tetapi kemudian menjadi positif atau negatif karena interpretasi dan
makna yang kita berikan. Kondisi yang tidak menyenangkan atau musibah adalah
fakta hidup, tetapi bukan itu yang membunuh kita, melainkan apa yang kita
pikirkan tentangnya.
Ini sungguh sangat relevan dengan yang saya rasakan. Betapa
saat Emma meninggal, pikiran saya langsung negatif. Saya langsung merasa saya
adalah ibu dan manusia yang sedemikian buruk, sehingga semesta berubah pikiran
untuk menjadikannya anak saya. Saya bahkan langsung berpikir mungkin saat Emma
diambil ia langsung dipindahkan ke rahim ibu lain yang jauh lebih baik dari
saya. Belum lagi semua perasaan bersalah yang terus menghujam, bahkan hingga
saat ini.
Saya tau bahwa semua perasaan itu datang dari pikiran saya.
Fakta sebenarnya adalah hanya anak saya meninggal. Itu saja. Tapi kemudian
pikiran saya kemana-mana dan berusaha melegitimasi pikiran yang
mengawang-ngawang itu.
Masih dalam buku Filosofi Teras, saya terkesan dengan
pembahasan Henry Manampiring mengenai Menghadapi Kehilangan Anak yang ada di
halaman 243-245. Ia mengutip Seneca, seorang filsuf dan politisi yang mengirim
surat kepada ibunya Helvia, saat Seneca harus menjalani hukuman pembuangan di
Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius:
“Karena dukacita yang
dicoba ditutupi atau dialihkan perhatiannya akan terus kembali, dengan kekuatan
yang lebih besar. Namun dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang
selamanya.”
Itu berarti berani menghadapi dukacita itu dan tidak lari
darinya. Dukacita dirasakan dan dihadapi, namun tidak berlarut-larut dalam
kesedihan. Ia harus ditaklukkan dengan nalar dan rasional. Caranya tentu dengan
merubah dan mengendalikan pikiran, interpretasi dan persepsi kita.
Apakah saya akan bisa melakukan itu? Saya sendiri belum tau. Namun
untuk sementara ini, sudah tau apa yang harus dilakukan saja sudah bagus.
*Terimakasih dan sayang sebesar-besarnya kepada Ani
Purwandini yang perbincangan dengannya melalui whatsapp sangat membantu tulisan
ini, dan juga hidup ini.
*Tulisan Henry Manampiring diambil dari buku Filosofi Teras.
Filsafat Yunani – Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Penerbit Buku
Kompas, 2019.
*Tulisan Rain Chudori diambil dari cerita pendek Dari
Berlin, Dengan Cinta yang ada di kumpulan cerita pendek Biru. Penerbit KPG,
2018.
No comments:
Post a Comment